3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial

3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial – Indonesia adalah negara yang sangat beradab, dari situ akan terdapat kekayaan makna hidup dan pengalaman yang berarti. Salah satu peradaban yang menonjol dari pengalaman ini adalah kemampuan mengolah kata-kata.

3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial

Sumber : kangwiwid.com

newconnexion – Mari kita ambil contoh orang Yunani, mereka memiliki kemampuan sastra dan filosofis. Tidak ada keraguan bahwa orang Yunani memiliki reputasi dunia dalam masalah ini. Hal yang sama berlaku untuk orang Arab, Romawi, Persia, Cina, India, India, dll.

Seperti halnya pulau Jawa, pulau Jawa merupakan bagian dari pulau nasional Indonesia dan memiliki logat khas tersendiri.Bahkan makna filosofi Jawa seringkali tidak dipahami oleh kebanyakan orang.

Dan etnis Jawa di era modern ini. Hal ini dikarenakan orang tua tidak mengajarkan bahasa Jawa kepada anaknya, sebagian orang menganggap bahasa Jawa adalah bahasa kuno. Oleh karena itu, jika muncul kata “Wong Jowo ora njawani” itu salah, artinya orang Jawa tidak mengerti bahasa Jawa.

Filsafat Jawa dianggap bahasa kuno, pedesaan dan ketinggalan jaman. Padahal, jika kita mempelajari filosofi orang Jawa, maka warisan leluhur tersebut akan bertahan seumur hidup.

Warisan budaya pemikiran Jawa ini bahkan dapat menambah kearifan dan wawasan serta mengajari kita bahwa hidup kita selalu “Eling lan Waspodo” yang artinya mengingat dan tetap waspada.

Oleh karena itu saya akan berusaha untuk menjaga pengetahuan anda tentang budaya jawa terutama dari segi bahasa yaitu filosofi jawa agar kita bisa mengerti betapa kayanya budaya indonesia.

Berikut ini 3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial yang di kutip dari bukubiruku:

1. Nrimo Ing Pandum

Sumber : kantisuci.blogspot.com

Nrimo berarti terima dan Pandum berarti untuk memberi. Oleh karena itu, Nrimo ing Pandum berarti menerima semua hadiah tanpa meminta lebih. Konsep ini merupakan salah satu filosofi Jawa yang paling populer dan masih dianut oleh masyarakat hingga saat ini.

Beberapa ilmuwan sosial meyakini bahwa konsep ini menjadi salah satu penyebab rendahnya etika profesi dalam masyarakat Jawa. Para ilmuwan ini menduga, kecenderungan masyarakat Jawa menerima segala sesuatu akan mengakibatkan hilangnya motivasi kerja. Dengan cara ini orang bisa duduk diam dan menunggu hadiah.

Mengingat teori psikologi saat ini menjelaskan bahwa setiap perilaku manusia berasal dari kepentingannya sendiri, maka hipotesis ini diturunkan. Berawal dari metode psikoanalitik, metode ini mengasumsikan bahwa perilaku manusia disebabkan oleh dorongan internal, yang digambarkan oleh teori humanistik yang disebut “Id”, yaitu orang harus menjadi dirinya sendiri sebagai harapan individu.

Bahkan perilaku pro-sosial dianggap sebagai upaya untuk mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama sebagai balasannya. Dilihat dari teori munculnya rongga perut masyarakat yang individualistis ini, maka wajar jika semua perilaku manusia dimotivasi dan didorong oleh kepentingan pribadi termasuk dengan pekerjaan.

Tindakan tunggal hanya untuk pertimbangan diri sendiri. Praktik ini merupakan berbagai kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja individu sesuai dengan kebutuhan individu.

Baca juga : Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak

Seringkali kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu dari dunia, tetapi juga tentang mendonasikan sesuatu untuk dunia. Islam mengenal konsep “Kada” dan “Qada”, yaitu adanya syarat-syarat pengaturan Allah SWT.

Dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, kita dapat mengatakan bahwa di dunia ini, beberapa hal berada di luar kemampuan kita untuk mengerti.

Untuk mengatasi masalah ini, orang merealisasikan konsep tawakal dalam Islam. Tawakal artinya berserah diri kepada Allah SWT. Karena semua urusan kita serahkan kepada Allah SWT, maka kita harus dengan leluasa menerima setiap keputusan yang ada. Sekilas konsep ini mirip dengan Nrimo ing Pandum.

Konsep tawakal, seperti halnya Nrimo ing Pandum, sering dianggap bertolak belakang dengan konsep kerja keras atau kerja keras. Namun jika kita ingin mengamati dengan seksama, kedua konsep ini hanya menggambarkan suatu hubungan, yaitu bagaimana menerima rangsangan dari luar, bukan bagaimana memberikan rangsangan dari luar.

Padahal jika kita memiliki dua hubungan dengan dunia luar, yaitu menerima dan memberi. Kemampuan kita tidak hanya terletak pada menerima rangsangan eksternal, tetapi juga dalam memberikan rangsangan eksternal. Konsep donasi terkadang diabaikan.

Sejauh ini, kami berasumsi bahwa kami membayar sebagian karena kami ingin mendapatkannya. Dalam konsep Jawa, keinginan “memberi dan menerima” ini disebut pamrih.

Fungsi Tawakal dan Nrimo ing Pandum terkait dengan penerimaan rangsangan eksternal. Menurut Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) kebahagiaan adalah hasil pencapaian ekspektasi dalam realita, jika ekspektasi tidak terpenuhi maka akan terjadi semacam kesusahan.

Harapan adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Realitas berada di luar kemampuan kita. Dalam Islam dikenal bahwa Qadha dan Qadar sepenuhnya berada di tangan Allah (Shalat) SWT, yang berada di luar kemampuan manusia.

Tawakal dan Nrimo ing Pandum berperan di sini. Kedua konsep ini memiliki peran yang mengikat, sehingga manusia tidak memiliki ekspektasi yang tinggi, sehingga ketika fakta menjadi tidak konsisten, kesedihan tidak akan menyerang individu tersebut.

Konsep ini membantu kita menerima kenyataan. Tawakal membuat kita berserah diri kepada Allah SWT karena Dia telah menetapkan segalanya. Nrimoing Pandum membantu kami menerima segala sesuatu tanpa mengharapkan atau meminta lingkungan untuk membuat “kesalahan”.

Bagaimana cara mencobanya? Dalam Islam, selain tawarkal juga terdapat konsep usaha yang menuntut umat Islam untuk melakukan yang terbaik. Bahkan dalam rentang tertentu, konsep jihad sudah dikenal luas, dan itu menuntun kita untuk “mencobanya dengan serius”.

Rasula sendiri juga menegaskan bahwa wawakal bukan berarti tanpa kerja keras. Narasinya berbunyi: “Jika kamu benar-benar percaya kepada Allah, maka ketika burung-burung itu mendapatkan perawatan, Allah pasti akan memberimu tempat. Burung-burung itu pergi dengan lapar dan kembali pada sore hari.”

Hadis tersebut menjelaskan bahwa meskipun segala sesuatunya ditentukan oleh Allah SWT, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha. Oleh karena itu, keliru jika menganggap sikap tawakal mengarah pada rendahnya etika profesi masyarakat.

Pada saat yang sama, bagi orang Jawa, kita harus memberi tanpa syarat. Misalnya, sikap terhadap tamu menunjukkan bagaimana kita menempatkan orang lain di atas kepentingan kita sendiri.

Adanya semangat gotong royong dan gotong royong merupakan wujud nyata konsep bisnis dalam masyarakat Jawa. Ketika kita perlu bekerja tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga tanpa pamrih untuk orang lain.

Bukankah hidup sama sekali tentang memberi dan menerima? Terimalah dengan bebas apa yang diberikan kepada kita tanpa syarat, dan sediakan sebanyak mungkin barang tanpa pamrih. Inilah arti sebenarnya dari prinsip “Enlimu Empandan”, karena kami percaya hanya dia yang harus pasrah.

2. Mangan ora mangan sing penting ngumpul

Sumber : m.facebook.com

Mangan ora kumpul penting (tidak makan atau makan penting untuk kumpul-kumpul) biasanya dijelaskan secara dangkal dan dianggap tidak modern, sehingga tidak cocok digunakan saat ini.

Hal ini terjadi karena hanya makanlah yang menjadi kebutuhan utama dibandingkan dengan makan, padahal makanan lebih penting dari pada makan.

Oleh karena itu sebagian dari kita beranggapan bahwa ungkapan ini sudah tidak penting lagi. Jika sekarang ini jaman internet dan bisa dekat satu sama lain dengan dukungan kematangan teknologi, maka tidak perlu berkumpul bersama.

Filosofi ini didasarkan pada prinsip gotong royong yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Jawa (mungkin di seluruh Indonesia) pada saat itu. Keluarga merupakan elemen yang tidak terpisahkan dan penting.

Karenanya, saat salah satu dari mereka harus meninggalkan jalinan, sepertinya ada perasaan yang berat. Hubungan yang kuat dalam keluarga ini berdampak pada semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

Membangun rumah cukup untuk membayar sarapan dan makan siang satu RT. Sejauh menyangkut waktu makan, Anda bisa merasakan suasananya yang hangat. Keringat mereka masih membasahi tubuh mereka, jadi mereka menikmati makanan gratis sederhana disertai dengan canda satu sama lain. Saat pernikahan dilangsungkan, semua orang menawarkan diri untuk membantu.

Ungkapan “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul” bukan hanya terkesan tidak berarti. Berbagai situasi dan dinamika terjadi dalam keluarga atau masyarakat kita, sehingga ungkapan ini akan muncul.

Di era modern ini, harus kita akui bahwa mobilitas kehidupan manusia semakin meningkat. Itu pendek dan tertutup dari satu tempat ke tempat lain.

Ungkapan “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul” mulai menghilang dari pandangan. Banyak orang diperbudak oleh materi. Dari pagi hingga malam, mereka sibuk mencari kebutuhan dunia, bahkan ada yang hingga pagi.

Sampai batas tertentu, urusan keluarga diabaikan, terutama jika jarak dan waktu terpisah. Oleh karena itu, “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul” tidak lagi dianggap efektif. Berkumpullah, jika Anda tidak bisa makan, itu tidak berguna. Inilah situasinya hari ini.

Jadi, bagaimanapun juga, kehadiran fisik (berkumpul), interaksi langsung dengan orang yang kita cintai sangat penting dan tak ternilai harganya dibandingkan dengan perut kenyang.

Baca juga : Pengertian Grafik menurut Para Ahli dan Jenis Grafik

3. Wong jowo iki gampang di tekuk – tekuk

Sumber : mogimogy.com

Makna tarjamah kita pahami dari filasaft di atas, yaitu, “Orang Jawa itu gampang bengkok atau gampang ditekuk. Namun jika kita memahaminya dalam arti disentuh, tentu tidak akan mencapai arti yang sebenarnya.

Mudah dibengkokkan Pegawai jawa sangat Mudah bergaul dengan siapapun dan orang dari tingkatan manapun, selama ada pejabat, dikenal sopan santun dengan utusannya.

Ada beberapa cara bahasa atau cara untuk memposisikan diri menurut orang yang ada. Sama halnya dengan berbicara. Bahasa tersebut terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu ngoko, krama dan krama Inggil.

Menurut orang-orang di tempat kejadian, bahasa apa yang akan digunakan. Krama Inggil digunakan saat berurusan dengan orang tua, tamu atau pejabat. Istilah sopan teman. Bagi orang yang usianya lebih muda atau sebaya tetapi sudah sangat paham, gunakan bahasa ngoko.

Padahal, ada satu hal lagi yaitu bahasa kasar yang tidak tersampaikan di sini karena jarang digunakan. Meski orang Jawa biasanya bekerja keras, mereka patuh karena keluwesannya. Mereka tidak suka konflik. Mereka lebih baik tunduk untuk menghindari konflik.

Melalui fleksibilitas ini, mereka juga menganut filosofi hidup yang mengalir seperti air. Faktanya, orang Jawa itu sangat pemalu, tetapi mereka ingin selalu ramah setiap saat, sehingga terkadang orang akan melihat mereka hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi apa yang mereka hadapi. Mengapa mereka begitu fleksibel? Mereka dididik seperti itu sejak kecil.

Salah satu kemungkinan alasannya adalah bahan laporan yang mereka terima ketika mereka menjadi teman setelah lulus dan menjadi mandiri. Dianjurkan agar mereka menjadikan keseluruhannya berguna dan mampu hidup di sembarang tempat dan dalam kondisi apapun. Usul tersebut diwujudkan dalam lambang Tarub. Daun dan daun ditemukan di Tarub.

Namun hanya ada dua buah yang ditampilkan di sini, yaitu pisang dan kelapa (cengkir). Pisang melambangkan segala kegunaannya, termasuk buah, daun dan batang pohon. Pada saat yang sama, kelapa berarti mereka bisa hidup dimana saja. Keduanya mengajari mereka untuk menjadi fleksibel dalam hidup mereka.

Meski begitu, fleksibilitas ini bukanlah kelemahan mereka, melainkan kearifan mereka (sifat bijak), jadi jangan main-main dan gunakan untuk keuntungan negatif. Mereka memiliki harga diri dan sangat sensitif.

Ingat ungkapan yang disampaikan, yaitu “sedumuk bathuk sesuai bumi”, marilah kita membaca S.16 An Nahl ayat 125, yang artinya: “Panggil (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dan berdebatlah dengan baik. adalah Tuhanmu, kamu tahu lebih banyak tentang siapa yang menyimpang dari jalannya, dan Tuhannya lebih tahu tentang mereka yang dibimbing.”

Related Posts

Show Buttons
Hide Buttons