4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati

4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati – Filsafat Jawa adalah ilmu filsafat yang bertumpu pada pemikiran yang berakar pada budaya Jawa. Filsafat Jawa sebenarnya tergolong filsafat Timur yang biasanya didasarkan pada pemikiran para filsuf di India dan Cina.

4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati

Sumber : guratgarut.com

newconnexion – Meski filsafat Jawa belum diakui sebagai bagian dari filsafat Timur pada saat ini, pada dasarnya adalah filsafat Jawa. Filsafat manusia mempunyai kemiripan. dengan prinsip yang terkandung di dalamnya. Filsafat India.

Seperti filosofi lainnya, filosofi Jawa pada dasarnya bersifat universal. Oleh karena itu, meskipun filosofi Jawa bersumber dari hasil budaya Jawa, namun sebenarnya bermanfaat bagi masyarakat di luar Jawa.

Meskipun bersifat universal, namun filsafat Jawa atau filsafat Timur berbeda dengan filsafat Barat pada umumnya. Dalam filsafat Timur (termasuk filsafat Jawa) tujuannya adalah untuk mencapai kesempurnaan, sedangkan tujuan filsafat Barat adalah kearifan.

Kemunculan filsafat Jawa tidak lepas dari pengaruh agama Hindu dan Budha, sehingga filsafat Jawa tidak lepas dari filsafat India [4]. Filsafat Jawa tumbuh dengan munculnya aksara Jawa (juga dikenal sebagai Hanacaraka).

Munculnya Hanacaraka membuat kesusastraan Jawa semakin berkembang. Saat itu banyak muncul penyair besar, seperti Enpu Canvo yang menulis “Kakawen Arjunaviva”, Empu Prapañca yang menulis “Kakawen Nagarakretama” dan menulis tentang “Empu Tantular” Kaka Win Suta Soma dan sebagainya.

Sejarah Hanacaraka muncul dan terkait dengan kisah Aji Saka dan kedatangannya dari umat Hindu. Oleh karena itu, tidak heran jika menemukan nama yang mirip dengan nama tempat atau nama India atau nama Jawa. Orang Jawa masih berpegang pada cerita Aji Saka yang merupakan inspirasi bagi kehidupan batin dan spiritual orang Jawa.

Beberapa Filsafat Supaya kita Berhati – hati yang dirangkum dari guratgarut.com:

1. Alon-alon waton klakon

Sumber : perwara.com

Sebagai orang yang tinggal di Indonesia, khususnya di lingkungan Jawa pasti sudah tidak asing lagi dengan filosofi Jawa Alon-alon waton klakon. Alon-alon waton kelakon pelan-pelan mengatakan bahwa hal-hal penting telah tercapai.

Istilah ini diturunkan oleh orang tua dari generasi ke generasi dalam bahasa Jawa yang bertujuan agar anak-anaknya menjadi gesit dan berhasil mencapai cita-citanya.

Alon-alon waton kelakon adalah saran untuk melengkapi kalimat dalam bentuk alon alon waton kelakon gliyak gliyek waton tum Aksi, yang artinya pelaksanaannya pasti bisa lambat, tapi eksekusinya masih lambat. Fokus dari anjuran ini adalah pada perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa peribahasa Jawa kuno memiliki makna yang dalam. Arti kalimat itu juga bisa digunakan di segala usia. Para orang tua menyarankan agar peribahasa ini harus dipahami oleh anak-anak dalam kehidupan mereka yang penuh tantangan.

Seperti kata pepatah, kita harus melanjutkan dengan hati-hati. Faktor risiko dari setiap keputusan dapat dipertimbangkan, sehingga masalah yang fatal dapat dihindari. Menyikapi perubahan lingkungan dengan serius dan menjadi sensitif, niscaya kita dapat mencapai tujuan hidup kita.

Baca juga : 3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial

Pepatah ini tidak mengajari kita untuk mengambil tindakan lambat atau mengambil tindakan lambat, tetapi berhati-hati sebelum mengambil keputusan. Berhati-hatilah saat menanggapi sesuatu.

Dalam setiap perjalanan hidup, ada tantangan dan rintangan yang membuat kita merasa frustasi dalam mencapai tujuan kita. Saat tantangan semakin meningkat, terkadang kita perlu istirahat.

Renungkan sejenak dan perhatikan masalah prioritas. Sasaran kita mungkin terasa jauh, tetapi dengan mempraktikkan kalimat ini, kita selalu bisa sedikit rileks.

Pepatah ini tidak mengajari kita untuk mengambil tindakan lambat atau mengambil tindakan lambat, tetapi berhati-hati sebelum mengambil keputusan. Berhati-hatilah saat merespons.

Dalam setiap perjalanan hidup, tantangan dan rintangan membuat kita merasa frustasi dalam mencapai tujuan kita. Saat tantangan meningkat, terkadang kita perlu istirahat. Pikirkan sejenak dan perhatikan prioritasnya. Tujuan kita mungkin jauh, tetapi dengan mempraktikkan kalimat ini, kita selalu bisa santai sepanjang waktu.

Penerapan kalimat ini dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat kita-sendiri-menjadi lebih tenang saat menghadapi masalah. Terkadang kita akan berhenti sejenak. Tidak perlu terburu-buru untuk menyelesaikan masalah. Ketika kita cukup tenang untuk memahami situasinya, kita punya cukup waktu untuk menyelesaikan masalah.

Ketika kita memasuki arah kehidupan yang baru, lingkungan dan situasi harus berubah. Dalam tahap yang menantang ini, meluangkan waktu untuk membuat daftar apa yang ingin kita capai dan apa yang ingin kita capai dapat membuat kita lebih fokus.

Saya melakukannya sendiri. Ketika saya melihat banyak tantangan, saya menyimpan buku harian perjalanan saya. Saya mendaftar apa yang perlu saya lakukan. Tidak peduli apa tanggung jawab saya, saya telah membuat daftar.

Setelah membuat daftar tanggung jawab saya, saya membuat data prioritas. Fokusnya adalah menempatkan prioritas kegiatan dan tanggung jawab di bagian atas daftar kegiatan dan segera menyelesaikannya.

Jika tanggung jawab termasuk dalam kategori jangka panjang, maka saya menjadikannya bagian dari rencana harian. Saya membuat buku harian setiap hari untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya harus menangani beberapa tugas dan tanggung jawab satu per satu.

Kedengarannya ini adalah daftar tanggung jawab dan tanggung jawab yang memakan waktu, bukan? Tidak, itu aplikasi alon-alon. Saya membuat daftar ini untuk mengidentifikasi prioritas-prioritas yang perlu ditangani terlebih dahulu.

Ketika saya mencapai urutan prioritas, saya akan menyelesaikannya terlebih dahulu. Sejauh ini, tanggung jawab lain pada daftar prioritas tingkat kedua sudah selesai karena saya sudah mengatur waktu untuk memenuhinya.

Ketika orang-orang di luar Jawa mendengar filosofi bahasa Jawa Aaron Wharton dan mendengarkan maknanya, banyak orang yang mengira bahwa kita tidak akan pernah berkembang dan maju. Bergantung pada bagaimana kita bereaksi terhadap ini, asumsi ini mungkin benar atau salah.

Filsafat Jawa, kata Alon-alon waton kelakon tidak menghalangi kita untuk melangkah maju. Alon-alon waton kelakon mengingatkan Anda, tolong lakukan pekerjaan Anda dengan hati-hati. Setiap tindakan dihitung dengan cermat. Jangan sampai kemajuan yang kita inginkan merugikan kita semua.

Filsafat Jawa, drama Aaron Aaron Wharton dapat diterapkan pada model kehidupan apa pun. Sifatnya fleksibel, karena mengingatkan kita untuk mengedepankan perkembangan papan, artinya beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi.

Dalam alon-alon waton kelakon juga terdapat perilaku “sense of taste”, artinya kita tidak hanya harus menggunakan metode perhitungan untung rugi seperti pedagang kapitalis, tetapi juga harus memperhatikan dan memperhatikan kenyamanan dan keamanan multi pihak. .

Dalam alon-alon waton kelakon, seseorang mengemukakan bahwa kita “tidak dilahirkan dengan alam”, yang artinya kita dituntut untuk memperhatikan lingkungan daripada hanya mengejar kepentingan pribadi untuk mencapai tujuan kita. Kami juga mendorong kami untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Dalam alon-alon waton kelakon juga dianjurkan untuk “menjaga keselamatan”, yaitu menjaga keselamatan semua pihak, baik itu keamanan pribadi, mental maupun spiritual.

Tindakan kecil kita akan mempengaruhi semua aspek. Oleh karena itu, alon-alon waton kelakon merupakan saran yang tepat untuk kemajuan bersama. Alon-alon waton kelakon tidak sesederhana arti harafiahnya.

2. Saiki jaman edan yen ora edan ora komanan, sing bejo sing eling lan waspodo

Sumber : facebook.com

Era saat ini adalah era gila, yaitu era yang penuh dengan kebanggaan, fitnah, tipu daya dan ketidakjujuran. Kehancuran moral terjadi di semua aspek kehidupan. Dengan amanah, orang baik akan dimusnahkan oleh orang jahat, namun harus diingat bahwa mereka yang akan diselamatkan akan tetap mengingat Tuhan (suka cita) dan berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran / kebenaran (waspadalah).

Bahasa ini sangat cocok untuk situasi saat ini, dimana dunia menjadi semakin kacau, semakin kacau. Pada saat yang sama, makna filosofi Jawa tersebut di atas adalah “sekarang zaman kegilaan, siapa yang tidak gila tidak akan sampai, hanya yang mengingat Allah dan waspada terhadap yang beruntung”.

Tentu saja, saya berharap kami yang beruntung. Demikianlah beberapa pedoman, pandangan hidup atau filosofi Jawa yang tidak terlalu keren. Sekarang saatnya kita memikirkan kembali filosofi Jawa dan menasehati diri kita sendiri di era yang semakin kacau ini.

3. Ajinhing Diri Saka Lati, Ajining Saka Raga Busana

Sumber : mohyukandahlawy.tumblr.com

Kata Ajining diri saka lathi berarti seseorang dapat dihormati dan dihormati menurut perkataannya. Contohnya adalah jika seseorang berperilaku dengan benar, dia akan mendapatkan lebih banyak rasa hormat di komunitas atau masyarakat.

Orang yang berpengetahuan luas akan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak akan menyinggung perasaan orang lain. Tidak ada sikap sombong dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat juga disertakan.

Artinya, manusia harus selalu memperhatikan setiap perkataannya agar selalu mengatakan hal-hal yang baik tanpa berbohong. Selain itu, Paguyuban Bahasa Jawa juga memiliki beberapa tata krama lisan tertentu, misalnya: jika anak berbicara kepada orang tua, maka anak harus menggunakan bahasa Jawa (lembut), dan jika orang tua berbicara kepada anak maka dia dapat menggunakan bahasa tersebut. ngoko (Jawa).

Ajining Saka Raga Busana. Dalam masyarakat Jawa, berpakaian rapi juga memiliki nilai etiket. Artinya dari penampilan atau pakaian seseorang, seseorang akan menjadi sangat berharga.

Namun, bukan berarti mereka harus rendah hati meski pintar atau memiliki aset, lalu memakai pakaian yang tidak rapi (kusut), atau bahkan memakai kaos oblong di acara formal. Sebaiknya Anda berpakaian sesuai dengan kondisi atau lokasi. Selain pakaian, tubuh juga harus diperhatikan seperti wajah, rambut, dan bau tubuh.

Baca juga : Pengertian dari Design Grafis

4. Ngunduh Wohing Pangarti

Sumber : caknun.com

Pepatah Jawa dalam bahasa Indonesia adalah “Ngunduh Wohing Pakarti” yang artinya: setiap orang akan mendapatkan pahala yang layak diterimanya. Kami selalu akrab dengan motto ini: “Apa pun yang Anda tanam, Anda bisa menuai hasilnya.”

Selain itu, peribahasa ini ingin memberi tahu kita bahwa jika kita melakukan hal buruk, maka hal buruk juga akan kita temui di kemudian hari. Entah itu berasal dari itu atau apapun.

Intinya, peribahasa ini untuk berbicara tentang hukum keseimbangan, dalam bahasa Indonesia mungkin memiliki arti yang sama dengan peribahasa, siapa pun yang menabur tanaman, angin akan membawa badai.

Orang terkadang akrab dengan kelalaian. Kewajiban dan hak yang harus dipenuhi dalam kelalaian. Terkadang hal itu juga merampas hak orang lain sebagai investasi kekuasaan. Masih tidak bisa menahan karena keinginan.

Tanpa disadari, orang biasanya melakukan hal-hal yang kontradiktif, mengganggu ketertiban, dan merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Semua hal baik atau buruk menunggu jawaban.

Kita tahu bagaimana menebang pohon dan tumpukan bukit menjadi gundul, dan tidak ada lagi resapan air. Keserakahan menyebabkan bencana, dan banjir bandang ada di mana-mana. Anda tahu, itu bukan hak mereka menggunakan uang untuk memaksa partai politik. Kemudian hukum menjebaknya sebagai tahanan yang tidak berdaya.

Terkadang orang tua melupakan diri mereka sendiri, dan cinta mereka kepada anak-anak serta istri mereka diabaikan. Dia terlalu sibuk menghibur. Kemudian, ketika dia besar nanti, hidupnya terdampar tanpa dukungan karena kerabatnya berhenti mengganggunya. Kita juga sering melihat bahwa keluarga muda terpaksa menikah karena terlalu menikmati kebebasan berserikat.

Jaga mulut Anda dan perhatikan tangan Anda. Karena semuanya berhak diperlakukan. Jika tidak ada manfaatnya, tidak perlu sembarangan bicara. Tidak perlu melakukan sesuatu dengan sembarangan, karena semuanya bertanggung jawab.

Selain itu, Anda tidak perlu menyimpan dendam, karena semua kemalangan akan dihargai pada waktunya seperti kebaikan. Cobalah menjadi orang baik. Karena meski pahala tidak instan, perbuatan baik bisa mendatangkan pahala. Karena setiap orang akan mendapat madhorot dari tindakan mereka atau menjadi gila.

Related Posts

Show Buttons
Hide Buttons