New Connexion – Informasi Tentang Filsafat Hidup

New Connexion Memberikan wacana tentang filsafat hidup yang memiliki sensitivitas pada praksis keseharian tanpa mereduksinya ke perkara-perkara teknis yang dapat menyelesaikan masalah secara instan.

5 Filsafat Pegangan Orang Jawa

5 Filsafat Pegangan Orang Jawa – Indonesia memiliki banyak tradisi dan budaya. Apalagi budaya Jawa masih dilestarikan. Budaya ini mencakup kata-kata mutiara atau kutipan filosofis. Sayangnya, tidak semua orang memahami prinsip-prinsip rujukan bahasa Jawa.

5 Filsafat Pegangan Orang Jawa

Sumber : kangwiwid.com

newconnexion – Hal ini dikarenakan orang tua saat ini tidak selalu mengajarkan bahasa dan budaya Jawa kepada anak-anaknya, karena menurut mereka bahasa Jawa itu kuno. Muncul kutipan “Wong Jowo ora njawani” yang artinya orang Jawa tidak mengerti bahasa Jawa.

Namun jika kita teliti, maka filosofi orang Jawa merupakan warisan nenek moyang kita dan telah digunakan selama berabad-abad. Karena peninggalan ini akan membuat kita selalu “Eling lan Waspodo” artinya mengenang dan tetap waspada.

Setiap orang pasti punya filosofi masing-masing. Filsafat atau filosofi hidup yang kokoh dalam perjalanan hidup. Indonesia memiliki banyak filosofi yang luar biasa dan unik. Salah satunya adalah falsafah hidup atau falsafah hidup orang Jawa.

Filsafat Jawa terkenal dan sarat makna. Nah, jika Anda orang Jawa, pasti Anda akan merasakan betapa bergunanya filosofi ini dalam hidup Anda.

Berikut ini beberapa Filsafat Pegangan Orang Jawa yang di kutip dari goodnewsfromindonesia :

1. “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”

Sumber : facebook.com

Jawa memiliki banyak tradisi dan budaya. Salah satunya adalah tatanan formal atau tradisi lisan yang disarankan oleh Jawa. Kata pitutur berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pelajaran, nasehat atau peringatan (Prawiroatmodjo, 1957: 507). Pitutur biasanya dikomunikasikan melalui peribahasa, lagu macapat, dongeng, dialog suara, dll.

Salah satunya adalah sura dira jayaningrat, yang melebur pangastuti. Artinya hanya dengan sikap arif, lembut dan sabar kita dapat mengatasi semua sifat keras kepala, remeh, dan pemarah (Hernanda Rizky, 2018: 328). Faktanya, segala bentuk amarah yang melekat pada manusia dapat dihilangkan melalui sifat-sifat baik, seperti kelembutan namun ketegasan, simpati namun tidak ada preferensi dan keramahan. Setiap kata dalam puisi itu memiliki arti tersendiri.

Suro artinya keberanian. Setiap orang memiliki sifat pemberani, yang bisa memiliki makna positif maupun negatif. Ketika orang tidak bisa mengendalikan keberanian, sifat keberanian bisa menjadi sifat negatif, dan manusia akan terpengaruh oleh kejahatan, keberanian mendominasi dan marah.

Pada saat yang sama, Diro berarti kekuatan. Orang Yang Mahakuasa memberikan hadiah kepada umat manusia dengan kekuatan fisik dan spiritual. Demikian pula manusia harus memiliki keberanian, harus memiliki kemampuan dan memanfaatkan kekuatan batinnya dengan sebaik-baiknya, agar manfaat yang diberikan kepadanya tidak akan disia-siakan, melainkan akan menimbulkan kemarahan dan kejahatan.

Kemudian, keunggulan berarti kemuliaan. Kemuliaan adalah hasil dari keberanian dan kekuatan. Ketika manusia memiliki kemuliaan, tetapi tidak memiliki kualitas yang baik untuk menyamai dirinya, mereka akan menjadi sombong, sombong, sombong, dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama.

Selain itu, bangsawan berarti dihormati. Orang yang terhormat harus kecanduan kesenangan duniawi yang melimpah atau bahkan berlebihan. Bentuk harta atau jabatan atau gelar bangsawan.

Meleleh berarti dihancurkan, lenyap, diserahkan atau diserahkan, dan hilang. Setiap ciri kemarahan atau kejahatan bisa ditundukkan dan dihancurkan oleh kebaikan dan kelembutan. Pada saat yang sama, penyangkalan adalah kombinasi makna.

Pangastuti artinya cinta atau kebaikan. Yang disebut kebaikan mengacu pada penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kebajikan antara manusia dan kebajikan antara manusia dan alam.

Kebaikan kepada Tuhan adalah dengan menyembahnya, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Ketika manusia dapat melakukan hal-hal yang baik, maka mereka akan menerima anugrah dari Tuhan, Anugrah bisa dalam bentuk apapun, seperti bebas dari rasa khawatir.

Di saat yang sama, kita sering melihat kebaikan kepada rekan-rekan kita di masyarakat, seperti bagaimana orang saling menghormati dan membantu. Ketika manusia melakukan perbuatan baik kepada sesama, manusia juga akan mendapatkan pahala berupa kebaikan.

Selain itu niat baik terhadap alam adalah menjaga dan melestarikan alam. Ketika manusia dapat melindungi alam daripada merusak alam untuk keuntungannya sendiri, alam akan memberikan kepada manusia apa yang terkandung dalam alam

Sura dira jayaningrat, lebur den pangastuti adalah falsafah masyarakat Jawa yang lebih baik. Orang Jawa percaya bahwa hanya dengan sikap arif, lembut dan sabar kita dapat mengatasi semua sifat keras kepala, remeh, dan pemarah. Sesuai dengan karakter orang jawa, mereka memiliki hati yang lembut dan sabar. Saat berhadapan dengan orang yang tamak dan kuat, mohon menyerah sebanyak mungkin. Bukan karena dia cuek, tapi orang Jawa biasanya menghindari pertengkaran yang berujung pada pemutusan hubungan.

Sampai saat ini sebagian masyarakat Jawa masih menggunakan Pitutur sebagai pedoman hidup. Karena pitutur memiliki nilai moral religius, maka hal itu menjadi norma bagi manusia bijak. Dengan cara demikian, manusia selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk. Manusia percaya pada hukum sebab dan akibat, dan jika mereka melakukan perbuatan baik, mereka akan mendapatkan hasil yang baik. Jika mereka melakukan hal-hal buruk, hasilnya akan buruk.

2. “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”

Sumber : youtube.com

Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro (Manusia yang hidup di dunia harus berjuang untuk keamanan, kebahagiaan dan kemakmuran; menghilangkan kemarahan, keserakahan dan keserakahan).

Hidup di dunia ini harus selalu mengupayakan keamanan, kebahagiaan dan kemakmuran, serta menghilangkan amarah, keserakahan dan keserakahan. Siapakah yang pada dasarnya marah, dan tamak?

Tentu saja, mulailah dengan hal yang paling dekat, yaitu sifat batiniah kita. Kelangsungan hidup adalah sifat manusia. Jika kita terbebas dari keserakahan, maka kebahagiaan hidup akan menjadi panen tambahan. Itu mengalir melalui hidup kita secara alami.

Rasa keserakahan ini bisa menimbulkan kecemburuan, inti dari kecemburuan adalah bahwa kemarahan adalah bencana. Untuk diri sendiri dan orang lain, “rak uripmu akan menutupi iso”. Cemburu itu wajar, itu adalah pendorong yang diberikan oleh Tuhan untuk memungkinkan kita terus bertahan dan meningkatkan kualitas hidup. Kecemburuan akan melahirkan motivasi yang lebih baik. Kombinasi kecemburuan dan kecemburuan dan bencana itu berbahaya.

Lalu, apakah kita tetap diam saat orang lain kesal? Bukankah seharusnya itu diberantas? Ya, tapi bukan amarah, tapi kesabaran dan kelembutan. Ini seperti air yang mengikis setetes demi setetes batu jika diperlukan. Tentu hal ini sangat menantang karena kita harus melakukannya di dalam hangkoro batin kita terlebih dahulu.

Bukan berarti mulai dari perasaan damai itu akan muncul pikiran-pikiran yang jernih dan bisa dimengerti, kedamaian seperti ini hanya mungkin terjadi bila kita jauh dari amarah, keserakahan dan keserakahan.

3. Urip Iku Urup

Sumber : kompasiana.com

Istilah urip iku urup berarti “hidup harus selalu menyala”. Jika kita mulai menjelaskannya dengan cara orang awam, maka kata “nyala api” mungkin merujuk pada sifat api. Keberadaan api dalam kehidupan setidaknya sangat diperlukan, sama seperti esensi “nyala api”, ia memiliki makna kehidupan yang mencerahkan. Tentu saja, bahkan di pusat tata surya, matahari memiliki sifat seperti nyala api.

Bisa juga dikatakan bahwa jika tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki sifat “nyala api”, maka dapat dipastikan kegelapan akan mendominasi. Mungkin kita tidak akan mengenali berbagai warna dalam hidup kecuali kegelapan itu sendiri.

Pepatah Jawa “urip iku urup” memang sangat tua dan memiliki sejarah yang panjang, hingga saat ini sudah dihormati oleh masyarakat Jawa. Namun pada prinsipnya, ajaran “urip iku urup” tidak cukup hanya dihormati. Seperti yang dikatakan Ronggowarsito, masih ada kebutuhan untuk mengamalkan, yaitu “ilmu iku kelakone kanti laku” yang artinya ilmu itu harus sampai pada amalan.

Arti “urip iku urup” dimaknai sebagai kondisi yang diperlukan bagi kehidupan untuk membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Layaknya lilin yang menyala di malam yang gelap, kita selalu bisa merasakan manfaatnya. Mungkin kita bisa merasakan ungkapan “urip iku urup” begitu klasik dan umum. Namun nyatanya, keberadaan ajaran ini tidak malu-malu. Artinya, kita masih bisa mempraktikkan ajaran semacam ini dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan bijak masyarakat Jawa ini menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia adalah negara yang hebat. Dalam hal ini, yang penting bukan hanya luas wilayahnya, tetapi juga pemikiran dan keluasan batin setiap elemen negara ini.

Jadi jika ini adalah ajaran orang Jawa, apakah mereka tidak bisa mengamalkannya kecuali orangnya? tentu saja tidak. Setiap daerah tentunya memiliki wawasan arifnya masing-masing, namun kemanapun kita memandangnya, pada dasarnya kebajikan universal tetaplah esensi kehidupan. Ajaran “urip iku urup” tidak hanya panggilan orang Jawa, tetapi juga panggilan seluruh alam semesta.

4. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman

Sumber : elinds.com

Aja Gumunan artinya jangan heran. Sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan komunitas, kita harus bisa memposisikan diri dengan tepat. Ketika orang biasa bisa meraih kesuksesan, kita tidak perlu heran. Misalnya kemajuan teknologi yang sangat modern seperti saat ini. Kita tidak perlu heran dengan ini, tetapi kita harus belajar untuk menguasainya. Dengan cara ini kita tidak akan ketinggalan zaman.

Marah artinya menjadi pribadi, bukan mudah mengeluh dan menyesal. Filosofi ini memberi tahu kita bahwa setiap keputusan yang kita buat akan mengarah pada hasil yang baik atau buruk. Misalnya, kita membantu seseorang, tetapi setelah orang yang kita bantu berhasil, mereka melupakan layanan yang kita berikan. Kita tidak perlu menyesali apa yang telah kita lakukan, yakinlah, meskipun mereka melupakan perbuatan baik kita, suatu saat kita akan mendapatkan pahala atas perbuatan baik dari orang lain.

Aja Kagetan berarti kita sebagai manusia tidak akan mudah dikejutkan oleh segala hal. Atasi setiap masalah dengan tenang. Filosofi ini mengajarkan kita untuk hidup dengan hati-hati dan waspada.

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

Sumber : twitter.com

Artinya dari Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan adalah “Jangan mudah terluka saat bencana melanda, atau jangan sedih saat kehilangan sesuatu”. Tidak peduli tragedi apa yang mungkin terjadi, hidup kita harus terus berjalan, dan kita harus tetap berpikiran positif.

Related Posts

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Show Buttons
Hide Buttons