New Connexion – Informasi Tentang Filsafat Hidup

New Connexion Memberikan wacana tentang filsafat hidup yang memiliki sensitivitas pada praksis keseharian tanpa mereduksinya ke perkara-perkara teknis yang dapat menyelesaikan masalah secara instan.

Filsafat Tentang Jangan Terlalu Berburu Harta Tetapi Kecukupan!

Filsafat Tentang Jangan Terlalu Berburu Harta Tetapi Kecukupan! – Falsafah hidup bisa berupa apa saja yang dapat memberikan pandangan dunia, dan kepercayaan ini dipraktekkan sebagai nilai yang memotivasi kehidupan orang Jawa. Hal ini sesuai dengan pengertian filsafat sebagai cara hidup.

Filsafat Tentang Jangan Terlalu Berburu Harta Tetapi Kecukupan!

Sumber : bukubiruku.com

newconnexion – Padahal, menurut ajpcreations, cara berpikir orang Jawa merupakan perilaku mental yang mampu menekan gejala dan pengalaman serta memperjelasnya. Ciptoprawiro mengungkapkan gagasan menariknya dalam buku “Filsafat Jawa”, ia menemukan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar, membedakan makna filsafat dari sudut pandang orang Jawa, dan membedakan filsafat dari sudut pandang Barat.

Filsafat dalam perspektif Jawa berarti ngudi kasampurnaan (mencari kesempurnaan), sedangkan filosofia dalam bahasa Yunani berarti ngudi kawicaksanan (mencari kearifan).

Menurut pandangan Barat, filsafat diartikan sebagai upaya untuk memperoleh kebijaksanaan, dan pencarian kebijaksanaan diperoleh melalui pencarian pengetahuan. Sains merupakan hasil dari aktivitas berpikir kritis, yang menalar segala sesuatu melalui diskusi, kontemplasi, dan aktivitas lain yang menggunakan logika dalam logika.

Sementara itu, dalam pandangan orang Jawa tidak mungkin memperoleh ngudi kasampurnaan atau mengejar kesempurnaan hanya dengan melakukan kegiatan berpikir. Dalam ngudi kasampurnaan, orang jawa akan selalu berusaha untuk mencapai kesempurnaan, karena pada dasarnya kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Baca juga : Pancasila Sebagai Filsafat HIdup Bangsa Indonesia

Jadi tugas manusia untuk mengejar kesempurnaan bukan sebagai tujuan, tetapi untuk mengingatkan kepada manusia manusia bahwa manusia itu tidaklah sempurna, dan harus jadilah sedini mungkin dalam hidup mereka dalam mencari kesempurnaan melalui Ngudi Kasampurnaan. Bagi para penghayat ilmu tasawuf, kesempurnaan ini bisa tercapai bila keinginan orang Jawa akan Manunggaling Kawula Gusti terpenuhi.

Melihat dari sudut pandang yang lebih religius dalam bukunya “The Religion of Java” dan meyakini bahwa bahasa Jawa Dwipa menggunakan bahasa Jawa sebagai cara hidup untuk menentukan arah hidup yang lebih damai.

Ada pula yang mengatakan bahwa Dwipa Jawa adalah asli atau murni Jawa. Selain filosofi Jawa, para penyair Jawa juga telah menciptakan berbagai karya sastra berupa Suruk, Tengbang, dan Tawarikh.

Selain sumber-sumber tersebut, unen-unen (ungkapan tradisional) juga populer. Menurut Endraswara, unen-unen disebut dengan filosofi paruh baya Jawa, yaitu bentuk filosofi tuturan lisan yang diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.

Penggunaan sumber-sumber tersebut sejalan dengan pandangan Yasassusastra bahwa filosofi dalam sastra Jawa bersifat praktis dan terjalin dalam berbagai buku baik berupa dongeng maupun tentang doktrin kebajikan.

Filsafat hidup Jawa yang terbentuk ratusan tahun yang lalu telah mengalami berbagai pengaruh dari zaman prasejarah, kerajaan Buddha, Hindu, zaman Islam hingga zaman penjajahan.

Berdasarkan hal tersebut maka filosofi Jawa yang disebutkan dalam proyek penelitian ini merupakan filosofi Jawa yang berkembang selama ini. Pada hakikatnya filosofi Jawa yang berkembang saat ini adalah sejenis kearifan budaya yang sudah ada pada jaman Budha India, namun sangat dipengaruhi oleh Islam.

Mengingat masih ada dua pemuja utama budaya Jawa yang menganut ideologi Islam yaitu Yogyakarta dan Surakarta, ini merupakan fenomena yang luar biasa.
Filsafat hidup orang Jawa dalam tulisan ini tidak seluruhnya merupakan asumsi, pemikiran dan sikap dasar orang Jawa atau ras Jawa, seperti arti kata “filsafat” dalam kamus bahasa Indonesia.

Filsafat hidup orang Jawa di sini hanya berupa konstruksi teoritis pengarang, yang bertumpu pada beberapa rujukan tertulis dan non-tertulis tentang nilai dan kearifan yang melekat pada kehidupan orang Jawa.

Konstruksi teoritis dalam teori ilmiah modern mengacu pada sejenis skema / struktur / gambar, bukan kesimpulan induktif yang diambil dari suatu data atau hasil suatu inferensi, tetapi didasarkan pada kepastian intuitif dan bertujuan untuk mencapai kejelasan logis. Semoga struktur ini akan membantu memahami sesuatu dengan lebih baik.

Berdasarkan pandangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa falsafah hidup orang Jawa adalah suatu kepercayaan, dan kepercayaan ini merupakan konsep nilai yang dapat menginspirasi kehidupan masyarakat Jawa yang terjalin dalam berbagai cara dalam bentuk dongeng, Tembang, epigram, pidato lisan, dll.

Contoh Filsafat Tentang Material Atau harta

Sumber : kompasiana.com

Bahasa pitutur di atas berarti “banyak belum tentu cukup, ada juga yang belum tentu.” Pitutur bersifat universal, tidak hanya dalam hal harta atau pendapatan. Namun, latar belakang yang umum dipahami memang tentang kekayaan atau pendapatan.

Suatu hari kita mungkin ditanya apakah kita memilih banyak kekayaan atau kekayaan yang cukup. Tentu saja, orang akan memilih cukup banyak hal. Tapi ini adalah alternatif yang sulit. Mengapa? Karena ada perbedaan antara cukup dan cukup.

Kami memiliki banyak kekayaan, dan penerimaan pendapatan yang kami miliki di hati kami sudah cukup. Seseorang yang ingin memiliki banyak kekayaan dan kemudian benar-benar puas tidak akan pernah bisa mencapainya, karena ketika dia mencapai jumlah tertentu, tujuan baru akan segera muncul.

Berbeda dengan mereka yang merasa cukup. Akan ada perasaan berkelimpahan, karena hatinya bisa menikmati apa yang didapatnya berapa pun ukurannya. Dia bersyukur jauh di dalam hatinya. Hatinya adalah hati yang kaya, akan bahagia, tidak akan bahagia.

Dia tidak melihat ke atas tapi ke bawah. Dia memandang orang-orang yang lebih rendah darinya dari sudut pandang properti. Masih ada beberapa orang yang kehilangan tempat tinggal karena tidak punya tempat tujuan.

Masih ada orang yang meraup untung di tempat sampah. Beberapa orang masih harus menari di persimpangan jalan. Masih ada petugas parkir yang harus mempertaruhkan nyawa di tengah kemacetan lalu lintas.

Ada juga orang yang mempertaruhkan nyawa untuk menjadi Pak Ogah, dan mereka akan membantu kendaraan yang akan berbalik arah. Mereka berharap memperoleh kekayaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Dari segi ekonomi, ada lebih banyak orang yang kurang beruntung. Di sisi lain, banyak orang kaya yang tidak bisa menikmati kekayaannya. Dia terbaring di rumah sakit, dia harus diberi oksigen, lengannya harus disuntik secara intravena, dia harus menjalani berbagai prosedur medis, dietnya harus dikontrol dengan ketat, dan dia harus dibatasi. Tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan karena harus istirahat di tempat tidur.

Di sisi lain, beberapa orang dijemput secara paksa dan harus mengenakan pakaian berwarna oranye. Kasihan bukan? Namun, perasaan tidak mampu inilah yang membuatnya menjadi tabu, meski dalam banyak kasus sebelumnya, orang bahkan harus menanggung penghinaan, bahkan anak-anak dan keluarganya. Masih tidak malu? tentu saja tidak.

Banyak orang masih merasa malu, bahkan menjadikannya benteng terakhir harga diri. Melakukannya bukan berarti mengundang kita menjadi miskin dan menyedihkan, karena itu berarti frustasi.

Tentu kita bisa mencari banyak harta, tapi dengan cara ini tidak akan menyentuh tanda apapun. Semua yang didapatnya adalah rasa syukur dan kenikmatan, jadi hatinya sudah cukup.

Dengan rasa syukur dan syukur yang cukup, berkah akan berlalu dan membawa banyak manfaat. Dengan rasa syukur dan perasaan yang cukup, orang tidak akan keberatan berbagi dengan orang lain.

Hati seperti itu biasanya disebut qana’ah. Jadi, haruskah kita memilih keberuntungan atau kemandirian? Kita membaca HR Bukhari dan Umat Islam dari Abi Hurairah yang artinya: “Harta (yang hakiki) bukan karena melimpahnya harta. Tetapi harta (yang hakiki) adalah hati yang selalu dirasa cukup”.

1. Ojo Mburu Seneng Nanging Mburuo Ayem

Sumber : youtube.com

Jangan mengejar kebahagiaan (kesenangan), tetapi kejar kedamaian (jaminan)! Orang sering tidak tahu dan berpikir untuk waktu yang lama, dan apa yang mereka ungkapkan jauh di dalam hati mereka adalah keinginan untuk bahagia. Saya senang punya banyak uang, kedudukan tinggi, rumah terhormat, rumah berperabotan bagus, istri cantik dan sebagainya.

Bisakah ini menjamin kebahagiaan? tidak perlu. Kunci keamanan tetap diperlukan, jadi Anda bisa tenang. Dalam kebahagiaan, ada kedamaian pikiran dan kedamaian. Orang ini menikmati apa yang diperoleh dengan kenyamanan dan keamanan. Banyak orang kaya, tapi khawatir hartanya akan hilang atau berkurang.

Seseorang dengan posisi yang baik akan berusaha untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Atau simpan apa yang sudah Anda miliki. Rumah mewah, khawatir suatu saat pencuri akan masuk. Kemudian pasang berbagai kunci dan bahkan kamera pengintai.

Memiliki mobil mewah dengan cat usang sedikit saja sudah sangat membingungkan. Istrinya cantik, tapi matanya masih saling melihat. Singkatnya, karena kebahagiaan, banyak masalah bisa muncul. Ini dapat menyebabkan depresi, yang dapat menyebabkan masalah mental dan bahkan fisik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, depresi adalah penyebab utama masalah kesehatan di seluruh dunia. Dikatakan bahwa sekitar 300 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit mental ini.

Inilah sebabnya mengapa para lansia tidak menyarankan bahwa kebahagiaan adalah puncak harapan tertinggi, tetapi untuk menyelamatkan kekhawatiran. Dengan merasa tenang, seseorang akan memiliki kunci keamanan.

Jadi bagaimana Anda merasa tenang dan mencapai kedamaian pikiran? Meski harta mereka tidak banyak, mereka merasa cukup. Jika ada cacat, orang tersebut mengira ini adalah ujian untuk menerima lebih banyak hadiah di masa depan.

Ia akan merasa aman, tenang, tidak gelisah, khawatir, merasa sulit dan tidak mudah tersinggung. Hanya dengan rasa syukur terimalah apa adanya, agar cepat beradaptasi dengan berbagai kondisi. Semacam kedamaian batin, barang mahal yang membuat orang optimis dan selalu berpikir positif.

Apa yang dia pikirkan adalah jika dia memperlakukan orang lain dengan baik, maka orang lain akan memperlakukannya dengan baik. Dalam pikirannya ada Tuhan yang penuh cinta dan kasih sayang, dia akan mencintainya karena dia juga mencintai Tuhan.

Ingatlah, dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram. Kita baca juga sabda Rasulullah dari Abi Hurairah yang mengandung arti, ”Kecukupan itu itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kecukupan itu adalah hati yang selalu merasa kaya”.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Bangsa Arya di India

2. Urip iku ojo digae susah, wayahe seneng yo seneng, wayahe nyambut gae yo nyambut gae, wayahe leren yo leren, wayahe ngibadah yo ngibadah

Sumber : facebook.com

Hidup itu janganlah dibuat susah, saatnya bahagia ya bahagialah, saatnya bekerja ya bekerjalah, saatnya istirahat ya istirahatlah, saatnya beribadah ya harus beribadah. Jadi inti dari pepatah ini adalah cara kita melakukan sesuatu itu jangan terlalu kelebihan dan janganlah melebihi batas waktu.

Karena kalo kita melakukannya dengan berlebihan maka segala sesuatu akan kacau, karena waktunya senang itu harus digunakan dengan senang untuk memrefreshing, kalo saatnya kerja kita harus memaksimalkan waktu tersebut untuk kita kerja.

Jika saatnya kita istirahat maka kita harus menggunakan istirahat itu dengan baik supaya kesehatan kita juga tidak terganggu. Jika waktu ibadah kita juga harus menggunakan waktu tersebut dengan sepenuhnya untuk beribadah kepada Tuhan, bersyukur dan meminta rejeki keselamatan kepadanya.

Related Posts

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Show Buttons
Hide Buttons