Kehidupan Manusia Dari Sudut Pandang Filsafat

Kehidupan Manusia Dari Sudut Pandang Filsafat

ehidupan Manusia Dari Sudut Pandang Filsafat – Filsafat memiliki peran penting dalam segala hal, termasuk salah satunya yakni kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan melalui pemahaman filsafat kita dapat menjumpai pandangan atau pemikiran tentang segala sesuatu yang bersifat kompleks. Seperti salah satu contohnya yakni filsafat ilmu pengetahuan yang kerap disebut sebagai epistimologi. Selain itu, epistimologi juga kerap dihubungkan sebagai sumber dari segala sumber ilmu dimana induk keilmuan dari segala cabang ilmu dalam kehidupan manusia ialah filsafat. Berikut ialah ulasan mengenai pemahaman filsafat ke ranah yang lebih jauh:

1. Filsafat ialah kolaborasi dari perumusan world view atau pandangan duniawi dan teori ilmiah. Dalam hal ini, filsuf berperan untuk memberikan pandangan dan tingkat pemahaman lebih jauh mengenai sebuah ilmu.
2. Filsafat ialah bentuk dari pre-supposition dan pre-disposition pemikiran ilmuwan.
3. Filsafat merupakan suatu induk dan disiplin ilmu yang mengandung konsep pemikiran yang membutuhkan analisis kritis.

Setelah mengetahui mengenai sedikit gambaran tentang filsafat, maka penting untuk diketahui konsep kehidupan manusia jika ditinjau dari sudut pandang atau prespektif filsafat. Adapun di bawah ini ialah beberapa poin-poin penting yang akan disampai oleh salah satu pemain di situs slot online resmi terpercaya Indonesia yang menjadi seorang filsafat terkenal di dunia :

1. Adanya manusia dan ilmu pengetahuan
Manusia merupakan satu-satunya makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan di muka bumi. Hal ini terbukti dengan adanya akal pikiran dan nalar yang tidak dimiliki oleh mahluk Tuhan lainnya. Oleh sebab itu, seiring berjalannya waktu manusia akan selalu mengumpulkan pengetahuan dan ilmu untuk mewujudkan kehidupan yang baik. Pengumpulan ilmu pengetahuan disertai akal dan logika mewujudkan timbulnya sebuah ilmu baru yang nantinya pasti memiliki peran tersendiri dalam kehidupan. Dalam hal ini, filsafat memiliki peran yang sangat penting karena tanpa filsafat maka tidak akan muncul sebuah cabang ilmu pengetahuan dalam kehidupan.

2. Adanya hubungan antara rasa dan rasio dalam kehidupan
Dalam hal ini, akal budi manusia terdiri dari berbagai macam pertimbangan yang harus ditentukan dalam menjalankan kehidupan. Bahkan, penentuan itupun tidak bisa terlepas dari rasa tau perasaan dalam benaknya sehingga dari beberapa macam pertinbangan yang ada selalu didasarkan atas perasaan.

Itulah kedua poin penting mengenai hakikat konsep filsafat dalam kehidupan manusia. Meski terkesan berat dan perlu penafsiran lebih dalam, namun filsafat mampu memberikan sebuah uraian secara logis dan mengakar jauh terhadap suatu keilmuan dalam kehidupan. Oleh sebab itu, ketika seseorang akan mempelajari suatu ilmu secara mendalam maka dibutuhkan juga pemahaman lebih lanjut mengenai ilmu tersebut dari prespektif filsafat. Dengan demikian, keberadaan filsafat sangatlah penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan beserta cabang-cabangnya dalam kehidupan manusia.

Disamping itu, dengan mempelajari filsafat kita bisa terbiasa menyikapi suatu peristiwa secara kritis disertai pemikiran yang logis. Terlebih lagi ketika kita menghadapi suatu masalah, melalui pemikiran filsafat kita bisa menyelesaikan masalah dengan analisis mengenai sebab mengapa suatu peristiwa dapat terjadi beserta apa akibat yang akan terjadi, maka tidak heran ketika penguasaan mengenai filsafat banyak ditemukan dalam sekolah tinggi atau perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan mereka dipersiapakn menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu, maka filsafat dalam bidang tersebut juga harus mereka kuasai mengingat filsafat ialah induk dari segala cabang ilmu. Tanpa adanya filsafat keilmuan maka tidak akan muncul berbagai cabang ilmu seperti saat ini. Selanjutnya, teori filsafat membutuhkan pemikiran yang mendalam sehingga cocok diberikan sebagai dasar pemahaman mengenai suatu konsep keilmuan tingkat tinggi.

Pancasila Sebagai Filsafat HIdup Bangsa Indonesia
Filsafat Informasi

Pancasila Sebagai Filsafat HIdup Bangsa Indonesia

Pancasila Sebagai Filsafat HIdup Bangsa Indonesia – Di dunia ini manusia terlahir sebagai makhluk sosial, yang artinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam hidupnya. Manusia membutuhkan orang lain dalam berbagai aktivitas.

Pancasila Sebagai Filsafat HIdup Bangsa Indonesia

Sumber : kompasiana.com
newconnexion – Situasi ini mendorong orang untuk tetap bersosialisasi dan berinteraksi satu sama lain setiap saat. Dalam mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu penyelenggaraan kesejahteraan masyarakat yang dilandasi semangat gotong royong, tidaklah mudah bagi kita untuk melihat dari kenyataan saat ini bahwa ketika perbedaan cara berpikir atau cara pandang tersebut menimbulkan berbagai konflik dalam hubungannya, masyarakat dalam masyarakat. Di era globalisasi ini, konflik tidak hanya terjadi di dunia nyata, yaitu ketika orang bertemu dan berbicara untuk mengungkapkan gagasannya, tetapi kita juga sering menjumpai berbagai konflik di dunia maya, seperti media sosial. Dilansir dari neliti.com, Secara etimologis, nama Pancasila terdiri dari dua kata yang berasalkan dari bahasa Sansekerta yaitu, pañca (yang artinya lima) dan sila (yang artinya prinsip, landasan, atau asas). Oleh karena itu, secara literal “Pancasila” dapat diartikan sebagai “lima ilmu dasar”. Pancasila adalah Filsafat kebangsaan yang lahir sebagai ideologi kolektif atau cita-cita bersama seluruh bangsa Indonesia yang diemban oleh para pendahulunya, refleksi pemikiran yang mendalam dan hasil-hasil yang disajikan dalam suatu sistem yang sesuai. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah kesepakatan yang dicapai dengan bangsa Indonesia, yang mengedepankan seluruh komponen dan nilai, serta merupakan pedoman bagi tata kehidupan berbangsa dan bernegara, yang berarti bahwa seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa. dan negara didasarkan pada lima nilai sila.
Baca juga : Sejarah Falsafah Orang Jawa

Filsafat Hidup Bangsa Indonesia

Sumber : terketik.com
Pancasila adalah falsafah hidup bangsa Indonesia. Setiap negara yang ingin mendapatkan pijakan yang kokoh dan mengetahui dengan jelas ke arah mana ia ingin mencapai tujuannya membutuhkan pandangan hidup (filosofi hidup). Dari perspektif kehidupan, suatu negara akan mengkaji masalah yang dihadapinya dan menentukan arah dan metode untuk menyelesaikan masalah tersebut. ” Falsafah hidup Pancasila sebagai negara merupakan kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh sebuah negara itu sendiri, yang diyakini benar dan menjadi tekad bagi negara untuk mencapai tujuan tersebut. Kami senang sekali pendiri Republik kita yang dulu ini bisa dengan jelas mendefinisikan wajah asli kehidupan negara kita, yang kemudian kita namai Pancasila. “Nilai-nilai gotong royong yang dikemukakan oleh Pancasra dan Soekarno hendaknya menjadi jiwa dan nilai dasar bangsa Indonesia, karena Pancasra dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan menentukan arah, tujuan, dan bersama-sama menjadi nafas hidup, dan Sebagai negara”. Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tanpa falsafah kehidupan, suatu negara akan menghadapi keragu-raguan terhadap isu-isu nyata dan virtual, termasuk yang ada di masyarakatnya sendiri. Bahkan dengan filosofi kehidupan, umat manusia masih menghadapi masalah besar dalam interaksi antar manusia dari semua negara di dunia ini. Dengan menyebutkan pandangan hidup ini, sebuah negara akan didirikan. Selain itu, Pancasila merupakan kesadaran dan cita-cita moral yang meliputi psikologi dan karakter yang tertanam dalam atau mengakar dalam budaya bangsa Indonesia. Pancasila adalah budaya yang mengajarkan kepada kita bahwa jika kita hidup sejahtera maka hidup manusia akan bahagia. Pancasila lahir atas dasar pemikiran dan refleksi mendalam para pendahulu kita. Hakikat lahirnya Pancasila merupakan kritik dan refleksi rasional terhadap pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Refleksi para pendahulu kita melahirkan Pancasila yang memiliki nilai ideologis dan mengandung harapan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Di bawah bimbingan Pancasila, orang hidup dengan bahasa sederhana mengharapkan keadilan, kemakmuran dan kemerdekaan.
Sumber : prezi.com
Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai keadilan dan peradaban manusia, nilai persatuan, nilai sosial yang dipimpin oleh kearifan dalam musyawarah / representasi, dan nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila akan membentuk norma atau tata tertib untuk mengatur kehidupan sehari-hari. Tata tertib atau norma pengelolaan kehidupan yang dilaksanakan akan mewujudkan cita-cita rakyat dan cita-cita bangsa ini, yaitu terwujudnya gagasan-gagasan para pendiri bangsa tentang persatuan, kebangsaan, keadilan, dan kesejahteraan. Gagasan-gagasan tersebut dipadukan menjadi satu, yaitu, gotong royong. Seluruh rakyat Indonesia memahami nilai Pancasila sebagai pedoman hidup dan akan berpegang pada aturan atau kebijakan yang disepakati. Dengan menjunjung tinggi nilai gotong royong sebagai wujud persatuan dan kesatuan bangsa, maka nilai-nilai entitas dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, negara, dan bangsa. Bentuk sosial yang dipimpin oleh Pancasila adalah welstanchauuung, yang akan menumbuhkembangkan masyarakat yang taat hukum untuk mewujudkan prinsip kemanusiaan yang mandiri, tidak merugikan orang lain, cenderung mewujudkan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab, serta tidak menyimpang dari norma sosial dan kehidupan. Lahirnya Pancasila dilandasi oleh gagasan-gagasan yang menonjol dari para pendahulu kita.Sebagai gaya hidup bangsa (welstanchauuung) dan ideologi nasional adalah kesepakatan politik sebelum berdirinya Indonesia. Di era globalisasi ini, peran Pancasila tentunya sangat penting untuk menjaga kepribadian bangsa Indonesia, karena dengan adanya globalisasi batas-batas antar negara seakan tidak terlihat, sehingga tidak mungkin terhindar dari kejahatan melalui kemajuan teknologi, karena Internet Contoh kejahatan. Cybercrime adalah tindakan ketidakjujuran yang akan menghancurkan negara, dan moralitas hati nurani serta pemikiran masyarakat akan menurun di sini, sehingga pada akhirnya menghapuskan ciri-ciri suatu negara. Akan sangat dramatis jika pendahulu kita, dengan pikirannya yang luar biasa, dengan mudah dihancurkan oleh seorang pria dengan hati nurani yang mati. Saat ini, kejahatan seperti kejahatan dunia maya telah memasuki krisis multifaset yang melibatkan anak-anak di negara tersebut. Anak-anak di seluruh negeri mudah dicuci otak dengan membuka Internet, dan tidak ada situs web pornografi dan tidak ada pendidikan tentang kekerasan fisik dan mental di Internet. Di berbagai website, “cybercrime menciptakan perilaku orang yang mudah terlihat melalui media sosial, memanggil (memamerkan) identitasnya atau memamerkan identitasnya”, atau melalui media sosial kita sering membaca WA, FB dan situs sosial lainnya. status media untuk “menunjukkan identitas”.
Sumber : cerdika.com
Pada akhirnya, pemerintah mulai secara bertahap menutup isu cybercrime melalui depkominfo, menutup website dengan website pornografi, bahkan mengesahkan UU IT anti pornografi serta kejahatan fisik dan psikologis. Setiap pelanggar yang menyebarkan situs porno akan dikenakan sanksi pidana. Melalui kebijakan yang dilakukan pemerintah yaitu revolusi spiritual memungkinkan Pancasila untuk tetap eksis dan mempengaruhi para pelaku cybercrime, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus tetap dijaga dan dilestarikan. Seperti kita ketahui bersama, perintah pertama adalah asas yang berhubungan dengan moralitas dan kepercayaan manusia. Jika tidak ada kepercayaan penuh pada ajaran agama, seseorang mungkin melampaui rutinitas. Situs web yang dapat berfungsi sebagai media yang baik dapat digunakan oleh penjahat untuk tujuan jahat. Ini menunjukkan perintah pertama, yang merupakan kelemahan jiwa dari monarki tertinggi. Di dunia maya seperti internet, banyak orang yang dengan sengaja menyebarkan ajaran sesat yang dapat merongrong kehidupan beragama di Indonesia. Bahkan ada doktrin sesat yang sengaja mengundang pembacanya untuk mengikuti doktrin dan kepercayaan sesat, dan korbannya tidak sedikit. Oleh karena itu, dengan mengikuti aliran sesat tersebut, banyak terjadi bom bunuh diri dimana-mana, yang sama sekali bertentangan dengan perintah pertama dan kedua. Tanpa sepengetahuan kita, hal ini berdampak negatif lain pada perkembangan teknologi, seseorang dapat saling menghujat melalui media yang diciptakan oleh teknologi informasi. Kalaupun para pegiat sosial menggunakan media website untuk membangun jejaringnya atau menggalang dana untuk menggugah kesadaran akan bencana, seperti yang dilakukan para pegiat sosial, keberadaan teknologi informasi juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sebagai salah satu bentuk kesatuan Pancasila. Sebagai negara dengan ideologi dan cara hidup yang kuat yaitu Pancasila. Menyikapi perkembangan teknologi informasi, seseorang harus mengikuti ideologi yang ditinggalkan oleh pendiri negara. Hal-hal yang tidak sesuai dengan budaya yang ada sebaiknya tidak diterima di negara ini. Dengan adanya Pancasila kita dapat menemukan budaya yang selaras dengan budaya yang ada, agar tidak melemahkan budaya dan fitrah Pancasila negara tersebut. Oleh karena itu, dengan mewarisi nilai-nilai Pancasila, para pelaku kejahatan siber juga akan menyadari kesalahannya sendiri dan mendapatkan kebijakan dari hasil perbuatannya, yakni kejahatan yang sesuai. Kebijakan pemerintah Indonesia tentang revolusi spiritual dapat menumbuhkan sikap dan perilaku dari masyarakat untuk menghargai pengabdian dan pengorbanan para pahlawan, serta untuk menghargai sejarah. Ibarat pesan yang disampaikan sang pahlawan, Profesor Mo Yamin mengatakan: “Cita-cita persatuan Indonesia bukanlah omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan akar sejarah negara kita sendiri. Perhatian terhadap sejarah akan menumbuhkan sikap patriotik untuk menjaga ciri khas negara kita sesuai dengan pesan profesor PhD. Suharso, yaitu apakah negara saya benar atau salah, apalagi jika kita tahu bahwa negara kita sedang dalam keadaan rusak, maka pada saat itulah kita memiliki kewajiban untuk menyelesaikan masalah ini. Saat ini, pemerintah berupaya mengubah persepsi masyarakat tentang Pancasila dengan membentuk sikap kooperatif dan melemahkan individualisme. Perkembangan teknologi informasi telah menjangkiti semua sektor masyarakat dan seluruh aspek kehidupan. Perkembangan dari teknologi informasi juga menjadi trend yang berdampak signifikan terhadap kebudayaan nasional.
Sumber : slideplayer.info
Dampak kemajuan teknologi memiliki efek positif dan negatif. Sebagai umat Pancasila, masyarakat harus menggunakannya dengan bijak. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi informasi, sekarang internet sedang berkembang, dengan internet kita dapat mengakses informasi yang kita butuhkan. Bahkan informasi dalam bentuk informasi negatif dapat dengan mudah diperoleh dari Internet, dan transmisi informasi negatif tersebut merupakan tindakan kejahatan di dunia maya.
Baca juga : Keindahan Mengejutkan Milan, Kota Air Di Italia
Sebagai insan Pancasila, Internet harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif guna mendukung perkembangan dunia pendidikan dan mewujudkan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Sebagai negara yang berideologi kuat, Pancasila. Menyikapi perkembangan teknologi informasi, seseorang harus mengikuti ideologi yang ditinggalkan oleh pendiri negara. Hal-hal yang tidak sesuai dengan budaya yang ada sebaiknya tidak diterima di negara ini. Dengan bantuan Pancasila kita dapat membedakan suatu budaya yang selaras dengan budaya yang ada, agar tidak melemahkan budaya dan hakikat Pancasila negara, karena dengan berkembangnya teknologi informasi informasi yang masuk akan merubah tingkah laku di Era globalisasi saat ini. Termasuk penggunaan teknologi untuk melakukan kejahatan dan perilaku tidak adil. Hal ini sejalan dengan pesan sang pahlawan bahwa jatuh bangunnya negeri ini sangat bergantung pada negaranya sendiri. Persatuan dan kepedulian Indonesia semakin menurun, itu hanya sederet nama pulau dan foto di peta. Jika kita sendiri suka menipu rekan-rekan kita, menghancurkan dan mencuri kemuliaan Ibu Pertiwi, jangan harap negara lain menghormati negara ini.
Sejarah Falsafah Orang Jawa
Filsafat Informasi

Sejarah Falsafah Orang Jawa

Sejarah Falsafah Orang Jawa – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, filsafat mengacu pada asumsi, pemikiran, dan sikap batin paling mendasar yang dimiliki oleh individu atau masyarakat sebagai pedoman hidup.

Sejarah Falsafah Orang Jawa

Sumber : phinemo.com

newconnexion – Oleh karena itu, filosofi senantiasa menyertai setiap olah raga dan aktivitas individu dan komunitas pemeluknya.

Dari sudut pandang hidup dan sikap batin, falsafah hidup akan menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan dalam setiap masalah yang dihadapinya.

Tidak hanya mempengaruhi kehidupan seseorang, sikap dan perilaku langsung maupun tidak langsung juga akan berdampak pada kehidupan orang tersebut, mulai dari unit terkecil (yaitu keluarga, kelompok masyarakat daerah, negara hingga dunia) yang memiliki pengaruh terbesar terhadap kehidupan.

Hal tersebut tidak lepas dari kegiatan filosofis saat berfilsafat atau menentukan pandangan hidup. Menurut filosofi Endraswara, inilah cara berpikir.

Sejak manusia menyadari keberadaannya di dunia, sejak saat itu, ia mulai memikirkan tujuan hidup, kebaikan, dan kebenaran Tuhan. Berdasarkan pandangan tersebut, kesadaran akan eksistensi diri mendorong manusia untuk memikirkan realitas di luar dirinya, dalam hal ini kehidupan, kebenaran, dan tujuan Tuhan.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Hasbullah Bakry mengartikan filsafat sebagai suatu jenis ilmu yang melakukan kajian mendalam terhadap segala hal yang berkaitan dengan ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menjadi esensi rasionalitas dan bagaimana sikap masyarakat seharusnya menghasilkan ilmu. Setelah mendapatkan ilmu ini.

Menurut wikipedia, filsafat adalah keinginan yang dalam akan kebijaksanaan, atau keinginan yang dalam akan kebijaksanaan. Berdasarkan sudut pandang di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah upaya untuk merenungkan dan mempelajari kebenaran, ketuhanan, dan sifat manusia secara mendalam.

Setelah menguasai hakikat ilmu ini, semoga mengembangkan sikap yang bijak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan hasil kegiatan filosofis, pandangan hidup dan sikap psikologis yang paling mendasar yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat.

Salah satu elemen dasar yang harus ada dalam setiap filosofi adalah kearifan. Karena kearifan sebagai buah dari aktivitas filosofis akan menghasilkan pandangan hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, ketuhanan dan kemanusiaan.

Dari etimologi, sejarah hingga mitologi, sejarah Pulau Jawa ada bermacam-macam versi. Sejarah terbentuknya Pulau Jawa dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Hindu kuno yang menyebutkan bahwa Jawa dulu adalah sebuah pulau bernama Nusa Kendang yang merupakan bagian dari India.

Baca juga : 4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati

Terpisahnya Pulau Jawa dari Benua India kemungkinan disebabkan oleh lempeng tektonik dan aktivitas vulkanik berabad-abad yang lalu. Ada juga yang berpendapat bahwa kata dalam bahasa Jawa berasal dari bahasa Sansekerta yava yang berarti tanaman barley, tanaman yang membuat pulau ini terkenal.

Dikatakan juga bahwa Yawadvipa disebutkan dalam epik India “Ramayan”, di mana Suvariva (Komandan Wanara) mengirim utusan ke Yawadvipa (Pulau Jawa) untuk mencari Dewi Shinta.

Sumber : akarasa.com

Dugaan lain adalah bahwa istilah Jawa berasal dari akar kata Austronesia asli, yang berarti rumah (Abimanyu 2014: 22). Dari segi mitologi, ada sebuah cerita yang dianggap sebagai pelopor bahasa Jawa dan asal muasal aksara Jawa.

Menurut Endraswara, cerita ini terkenal dalam budaya Jawa, banyak versi yang salah satunya ditulis dengan Serat Ajisaka (tanpa nama) yang menyatakan bahwa tokoh ini (Ajisaka) sudah dihuni dan diciptakan sebelum ia datang ke sana. Jawa, seorang raja besar memimpin.

Misi Ajisaka adalah menerangi pulau Jawa. Artinya, ia bertanggung jawab memberikan ilmu (peradaban) dengan menghancurkan Cengkar Dewata (lambang kebodohan), sedangkan menurut Kronik Jawa W.L Olthof, raja pertama Jawa adalah keturunan Nabi Adam.

Berikut kutipan dari karya W.L Olthof yang diterjemahkan oleh HR. Sumarsono (Sumarsono) adalah babad Raja Jawa, dimulai dengan Nurcahya (Nurcahya), putra Adam, putra Sith, dan Nabi Adam (Nurasah). Sanghyang Wening, putra Nurasa. Snghyang Wening memiliki seorang putra Sanghyang. Sanghyang Tunggal memiliki putra Batara Guru.

Batara Guru memiliki lima orang putra, Batara Sambo, Batara Brama, Batara Maha-Dewa, Batara Wisnu dan Dewi Sri. Batara Wisnu menjadi raja Jawa dengan nama Prabu Set. Batara Guru’s kerajan terletak di Sura-Laya.

Walaupun sebagian ahli berpendapat bahwa karya ini kurang objektif karena mengandung terlalu banyak mitos daripada fakta, namun Babad Tanah Jawa merupakan salah satu bahan tertulis terlengkap yang merekam apa yang terjadi di berbagai peristiwa di Jawa.

Bertentangan dengan pandangan Suseno, Suseno mengatakan bahwa sekitar tiga tahun sebelum Masehi, para imigran Melayu pertama dari Tiongkok selatan mulai membanjiri Asia Tenggara, dan terjadi beberapa gelombang dalam dua ribu tahun berikutnya.

Orang Jawa diyakini sebagai keturunan dari orang Melayu berikut ini. Pandangan ini dianggap paling masuk akal karena relatif non-mitos, meskipun tidak memiliki materi tertulis yang mendukung pandangan tersebut dan tidak persuasif.

Pandangan lain tentang asal-usul orang Jawa dikisahkan dalam Serat Asal Keraton Malang: Pada 350 SM Raja Rum 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan dipimpin Aji Keler. Pengiriman ini merupakan pengiriman kedua karena pengiriman pertama gagal karena semua kurir sudah dikembalikan ke negara asalnya pada 450 SM.

Gelombang kedua juga gagal, karena hanya tersisa 40 pasang. Hal ini mendorong raja untuk mengirim lebih banyak utusan, membuat lebih banyak persiapan, dan menyediakan alat yang lebih lengkap untuk mencegah generasi pertama dan kedua diserang oleh binatang buas.

Gelombang ketiga jelas berhasil dan akhirnya menyebar ke pedalaman Jawa yang terbuka. Secara arkeologi, menurut Koentjaraningrat dari Hrustotto, nenek moyang orang Jawa merupakan manusia tertua yang hidup di Indonesia sekitar satu juta tahun lalu.

Para antropolog menamai fosil tersebut Phythecanthropus Erectus. Banyak fosil muda ditemukan di Lembah Sungai Bengawan Solo di Provinsi Jawa Tengah, dan mereka diberi nama “Homo Soloensis” oleh para ahli.

Perkembangan budaya Jawa tidak terlepas dari perkembangan kerajaan nusantara. Periode kerajaan ini dimulai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu pada abad ke-6 hingga ke-8, seperti Kerajaan Kalinga, Sriwijaya, dan Mataram Budha.

Pada saat yang bersamaan, menurut beberapa ahli dalam Herusatoto (2000), ajaran Hindu mulai masuk ke Indonesia bersamaan dengan penghitungan tahun Saka, kira-kira pada tahun 78 M. Beberapa kerajaan yang termasuk dalam kerajaan Hindu antara lain Mataram Kuno, Kediri, Singasari dan Maya Pasit.

Bersamaan dengan itu, ketika Demak ditetapkan sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa sekitar tahun 1500 M, masa kejayaan kerajaan Hindu mulai runtuh. Pada era saat ini, Pulau Jawa merupakan pulau terpadat di Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2010 jumlah penduduk Pulau Jawa telah mencapai 137 juta dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 238 juta jiwa, sehingga terdapat lebih dari separuh penduduk Indonesia di Pulau Jawa, Indonesia.

Meski luas pulau relatif kecil dibandingkan dengan pulau lain seperti Sumatera dan Kalimantan, fenomena kepadatan penduduk ini tergolong normal karena Jawa sebagai pusat pemerintahan tampaknya menarik pendatang dari luar Jawa.

Namun, tidak semua orang yang tinggal di pulau Jawa bisa disebut orang Jawa.

Suseno meyakini bahwa yang disebut orang Jawa adalah orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa asli. Bahasa Jawa adalah penutur asli bahasa Jawa di bagian tengah dan timur pulau Jawa.

Lebih khusus lagi, proyek penelitian ini tidak mencoba membahas bahasa Jawa secara umum. Lebih tepatnya, ia hanya akan mempelajari sekelompok orang yang tergolong orang Jawa.

Endraswara mencontohkan bahwa ras adalah istilah yang merujuk pada tipe manusia berdasarkan budaya, tradisi, bahasa, masyarakat, dan pola keturunan, bukan pembagian ras, karena pembagian ras dianggap jenis yang ditentukan secara biologis, dipalsukan oleh manusia.

Berdasarkan pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor genetik / reproduktif belum tentu menjamin seseorang menjadi anggota suatu ras tertentu, dalam hal ini orang Jawa.

Untuk dianggap sebagai orang Jawa, setidaknya ada satu orang yang memiliki budaya, tradisi, bahasa dan model sosial yang sama di samping keturunan Jawa.

Sedangkan daerah yang menjadi orientasi budaya Jawa antara lain Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Pada saat yang sama, Yogyakarta dan Surabaya dianggap sebagai pusat utama kebudayaan Jawa.

Meskipun Jakarta, Tangerang, Banten dan daerah lainnya secara geografis termasuk dalam wilayah Pulau Jawa, namun tidak disebut Jawa karena bukan orang Jawa. Namun perlu dipahami bahwa tidak ada lembaga atau individu yang berhak melegalkan identitasnya sebagai orang Jawa atau non-Jawa.

Ketika berbicara tentang pandangan Franz Von Magnis (Jatman, 1997), ia mengatakan bahwa bahasa Jawa sebenarnya merupakan konstruksi teoritis dan tidak melibatkan beberapa kelompok individu tertentu.

Pandangan ini menjadi dasar untuk melihat bahasa Jawa dan benda-benda lainnya. Hal ini penting untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu tentang apa itu bahasa Jawa dan siapa, dan untuk membagi bahasa Jawa menjadi njawani dan ora njawani Jawa.

Dalam tulisan ini, bahasa Jawa berarti seseorang yang menganut tradisi, bahasa, dan model sosial budaya Jawa. Secara geografis dapat disimpulkan bahwa orang Jawa adalah individu yang dipengaruhi oleh dan dekat dengan pusat budaya Jawa (Yogyakarta dan Surakarta).

Namun demikian itu generalisasi, dalam tulisan ini ditegaskan kembali bahwa orang Jawa berarti orang yang menganut tradisi, bahasa, dan model sosial budaya Jawa, bukan hanya mereka yang tinggal di daerah dengan kondisi geografis dan pengaruh budaya Jawa yang kuat.

Baca juga : Dekorasi Ulang Tahun Anak-anak

Falsafah Hidup Orang Jawa

Sumber : youtube.com

Menurut Endraswara, falsafah hidup orang Jawa bisa berupa apa saja yang dapat memberikan pandangan dunia, dan kepercayaan tersebut dipraktekkan sebagai nilai yang selalu memotivasi kehidupan orang Jawa. Hal tersebut sesuai tentang pengertian filsafat sebagai cara hidup.

Padahal, menurut Mulder, cara berpikir orang Jawa merupakan perilaku mental yang mampu menekan gejala dan pengalaman dan juga memperjelasnya. Ciptoprawiro mengungkapkan gagasan menariknya dalam buku “Filsafat Jawa”, ia menemukan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar, membedakan makna filsafat dari sudut pandang orang Jawa, dan membedakan filsafat dari sudut pandang Barat.

Filsafat dalam perspektif Jawa berarti ngudi kasampurnaan (mencari kesempurnaan), sementara filosofia dalam bahasa Yunani berarti ngudi kawicaksanan (mencari kearifan).

Menurut pandangan dari Barat, filsafat bisa diartikan sebagai upaya untuk memperoleh kebijaksanaan, dan pencarian kebijaksanaan didapatkan melalui pencarian pengetahuan. Sains merupakan hasil dari aktivitas berpikir kritis, yang menalar segala sesuatu melalui kontemplasi, diskusi, dan aktivitas lain yang menggunakan logika dalam logika.

Sementara itu, dalam pandangan orang Jawa tidak mungkin memperoleh ngudi kasampurnaan atau mengejar kesempurnaan hanya dengan kegiatan berpikir. Dalam mencari ngudi kasampurnaan, seorang orang jawa akan selalu terus berusaha untuk memperoleh kesempurnaan, karena pada alasnya kesempurnaan hanya milik Tuhan, jadi tugas manusia untuk mengejar kesempurnaan bukanlah suatu sebagai tujuan, tetapi untuk mengingatkan kita manusia bahwa manusia itu tidak sempurna, dan harus jadilah saat sedini mungkin dalam hidup mereka dalam mencari suatu kesempurnaan melalui Ngudi Kasampurnaan.

Bagi para penghayat ilmu tasawuf, kesempurnaan ini bisa tercapai bila keinginan orang Jawa akan Manunggaling Kawula Gusti terpenuhi.

Endraswara melihatnya dari sudut pandang yang lebih religius dalam bukunya “The Religion of Java” dan meyakini bahwa bahasa Jawa Dwipa menggunakan bahasa Jawa sebagai cara hidup untuk menentukan arah hidup yang lebih damai.

Ada pula yang mengatakan bahwa Dwipa Jawa adalah asli atau murni Jawa. Selain dari filosofi Jawa, para penyair Jawa juga telah membuat berbagai karya sastra berupa Tengbang, Tawarikh,  dan Suruk.

Selain berasal dari sumber-sumber tersebut, unen-unen (ungkapan tradisional) juga telah populer. Menurut Endraswara, unen-unen disebut juga dengan filosofi paruh baya Jawa, yaitu bentuk filosofi tuturan lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

Penggunaan sumber-sumber tersebut sejalan dengan pandangan Yasassusastra bahwa filosofi dalam sastra Jawa bersifat praktis dan terjalin dalam berbagai buku baik berupa dongeng maupun doktrin kebajikan.

Filsafat hidup orang Jawa yang terbentuk ratusan tahun yang lalu telah mengalami berbagai pengaruh dari zaman prasejarah, kerajaan Buddha, Hindu, zaman Islam hingga penjajahan.

Berdasarkan hal tersebut maka filosofi Jawa yang disebutkan dalam proyek penelitian ini adalah filosofi Jawa yang berkembang selama ini. Pada hakikatnya filosofi Jawa yang berkembang saat ini adalah sejenis kearifan budaya yang sudah ada pada jaman Budha India, namun sangat dipengaruhi oleh Islam.

Mengingat masih ada dua pemuja utama budaya Jawa yang menganut ideologi Islam yaitu Yogyakarta dan Surakarta, ini merupakan fenomena alam.
Filsafat hidup orang Jawa dalam tulisan ini tidak seluruhnya merupakan pemikiran, asumsi, dan sikap dasar orang Jawa atau ras Jawa, seperti arti kata “filsafat” dalam kamus bahasa Indonesia.

Filsafat hidup orang Jawa di kala ini hanya berbentuk konstruksi teoritis pengarang, yang bertumpu pada beberapa rujukan tertulis dan non-tertulis tentang nilai dan kearifan yang erat pada kehidupan orang Jawa.

Konstruksi teori dalam teori ilmiah modern mengacu pada skema / struktur / gambaran, bukan kesimpulan induktif yang ditarik dari data atau hasil inferensi, tetapi didasarkan pada kepastian intuitif dan bertujuan untuk mencapai kejelasan logis. Semoga struktur ini akan membantu dalam memahami sesuatu dengan lebih baik.

Berdasarkan pandangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa falsafah hidup orang Jawa adalah suatu kepercayaan, dan kepercayaan ini merupakan konsep nilai yang dapat menginspirasi kehidupan masyarakat Jawa yang terjalin dalam berbagai cara dalam bentuk dongeng, Tembang, epigram, pidato lisan, dll.

4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati
Filsafat

4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati

4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati – Filsafat Jawa adalah ilmu filsafat yang bertumpu pada pemikiran yang berakar pada budaya Jawa. Filsafat Jawa sebenarnya tergolong filsafat Timur yang biasanya didasarkan pada pemikiran para filsuf di India dan Cina.

4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati

Sumber : guratgarut.com

newconnexion – Meski filsafat Jawa belum diakui sebagai bagian dari filsafat Timur pada saat ini, pada dasarnya adalah filsafat Jawa. Filsafat manusia mempunyai kemiripan. dengan prinsip yang terkandung di dalamnya. Filsafat India.

Seperti filosofi lainnya, filosofi Jawa pada dasarnya bersifat universal. Oleh karena itu, meskipun filosofi Jawa bersumber dari hasil budaya Jawa, namun sebenarnya bermanfaat bagi masyarakat di luar Jawa.

Meskipun bersifat universal, namun filsafat Jawa atau filsafat Timur berbeda dengan filsafat Barat pada umumnya. Dalam filsafat Timur (termasuk filsafat Jawa) tujuannya adalah untuk mencapai kesempurnaan, sedangkan tujuan filsafat Barat adalah kearifan.

Kemunculan filsafat Jawa tidak lepas dari pengaruh agama Hindu dan Budha, sehingga filsafat Jawa tidak lepas dari filsafat India [4]. Filsafat Jawa tumbuh dengan munculnya aksara Jawa (juga dikenal sebagai Hanacaraka).

Munculnya Hanacaraka membuat kesusastraan Jawa semakin berkembang. Saat itu banyak muncul penyair besar, seperti Enpu Canvo yang menulis “Kakawen Arjunaviva”, Empu Prapañca yang menulis “Kakawen Nagarakretama” dan menulis tentang “Empu Tantular” Kaka Win Suta Soma dan sebagainya.

Sejarah Hanacaraka muncul dan terkait dengan kisah Aji Saka dan kedatangannya dari umat Hindu. Oleh karena itu, tidak heran jika menemukan nama yang mirip dengan nama tempat atau nama India atau nama Jawa. Orang Jawa masih berpegang pada cerita Aji Saka yang merupakan inspirasi bagi kehidupan batin dan spiritual orang Jawa.

Beberapa Filsafat Supaya kita Berhati – hati yang dirangkum dari guratgarut.com:

1. Alon-alon waton klakon

Sumber : perwara.com

Sebagai orang yang tinggal di Indonesia, khususnya di lingkungan Jawa pasti sudah tidak asing lagi dengan filosofi Jawa Alon-alon waton klakon. Alon-alon waton kelakon pelan-pelan mengatakan bahwa hal-hal penting telah tercapai.

Istilah ini diturunkan oleh orang tua dari generasi ke generasi dalam bahasa Jawa yang bertujuan agar anak-anaknya menjadi gesit dan berhasil mencapai cita-citanya.

Alon-alon waton kelakon adalah saran untuk melengkapi kalimat dalam bentuk alon alon waton kelakon gliyak gliyek waton tum Aksi, yang artinya pelaksanaannya pasti bisa lambat, tapi eksekusinya masih lambat. Fokus dari anjuran ini adalah pada perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa peribahasa Jawa kuno memiliki makna yang dalam. Arti kalimat itu juga bisa digunakan di segala usia. Para orang tua menyarankan agar peribahasa ini harus dipahami oleh anak-anak dalam kehidupan mereka yang penuh tantangan.

Seperti kata pepatah, kita harus melanjutkan dengan hati-hati. Faktor risiko dari setiap keputusan dapat dipertimbangkan, sehingga masalah yang fatal dapat dihindari. Menyikapi perubahan lingkungan dengan serius dan menjadi sensitif, niscaya kita dapat mencapai tujuan hidup kita.

Baca juga : 3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial

Pepatah ini tidak mengajari kita untuk mengambil tindakan lambat atau mengambil tindakan lambat, tetapi berhati-hati sebelum mengambil keputusan. Berhati-hatilah saat menanggapi sesuatu.

Dalam setiap perjalanan hidup, ada tantangan dan rintangan yang membuat kita merasa frustasi dalam mencapai tujuan kita. Saat tantangan semakin meningkat, terkadang kita perlu istirahat.

Renungkan sejenak dan perhatikan masalah prioritas. Sasaran kita mungkin terasa jauh, tetapi dengan mempraktikkan kalimat ini, kita selalu bisa sedikit rileks.

Pepatah ini tidak mengajari kita untuk mengambil tindakan lambat atau mengambil tindakan lambat, tetapi berhati-hati sebelum mengambil keputusan. Berhati-hatilah saat merespons.

Dalam setiap perjalanan hidup, tantangan dan rintangan membuat kita merasa frustasi dalam mencapai tujuan kita. Saat tantangan meningkat, terkadang kita perlu istirahat. Pikirkan sejenak dan perhatikan prioritasnya. Tujuan kita mungkin jauh, tetapi dengan mempraktikkan kalimat ini, kita selalu bisa santai sepanjang waktu.

Penerapan kalimat ini dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat kita-sendiri-menjadi lebih tenang saat menghadapi masalah. Terkadang kita akan berhenti sejenak. Tidak perlu terburu-buru untuk menyelesaikan masalah. Ketika kita cukup tenang untuk memahami situasinya, kita punya cukup waktu untuk menyelesaikan masalah.

Ketika kita memasuki arah kehidupan yang baru, lingkungan dan situasi harus berubah. Dalam tahap yang menantang ini, meluangkan waktu untuk membuat daftar apa yang ingin kita capai dan apa yang ingin kita capai dapat membuat kita lebih fokus.

Saya melakukannya sendiri. Ketika saya melihat banyak tantangan, saya menyimpan buku harian perjalanan saya. Saya mendaftar apa yang perlu saya lakukan. Tidak peduli apa tanggung jawab saya, saya telah membuat daftar.

Setelah membuat daftar tanggung jawab saya, saya membuat data prioritas. Fokusnya adalah menempatkan prioritas kegiatan dan tanggung jawab di bagian atas daftar kegiatan dan segera menyelesaikannya.

Jika tanggung jawab termasuk dalam kategori jangka panjang, maka saya menjadikannya bagian dari rencana harian. Saya membuat buku harian setiap hari untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya harus menangani beberapa tugas dan tanggung jawab satu per satu.

Kedengarannya ini adalah daftar tanggung jawab dan tanggung jawab yang memakan waktu, bukan? Tidak, itu aplikasi alon-alon. Saya membuat daftar ini untuk mengidentifikasi prioritas-prioritas yang perlu ditangani terlebih dahulu.

Ketika saya mencapai urutan prioritas, saya akan menyelesaikannya terlebih dahulu. Sejauh ini, tanggung jawab lain pada daftar prioritas tingkat kedua sudah selesai karena saya sudah mengatur waktu untuk memenuhinya.

Ketika orang-orang di luar Jawa mendengar filosofi bahasa Jawa Aaron Wharton dan mendengarkan maknanya, banyak orang yang mengira bahwa kita tidak akan pernah berkembang dan maju. Bergantung pada bagaimana kita bereaksi terhadap ini, asumsi ini mungkin benar atau salah.

Filsafat Jawa, kata Alon-alon waton kelakon tidak menghalangi kita untuk melangkah maju. Alon-alon waton kelakon mengingatkan Anda, tolong lakukan pekerjaan Anda dengan hati-hati. Setiap tindakan dihitung dengan cermat. Jangan sampai kemajuan yang kita inginkan merugikan kita semua.

Filsafat Jawa, drama Aaron Aaron Wharton dapat diterapkan pada model kehidupan apa pun. Sifatnya fleksibel, karena mengingatkan kita untuk mengedepankan perkembangan papan, artinya beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi.

Dalam alon-alon waton kelakon juga terdapat perilaku “sense of taste”, artinya kita tidak hanya harus menggunakan metode perhitungan untung rugi seperti pedagang kapitalis, tetapi juga harus memperhatikan dan memperhatikan kenyamanan dan keamanan multi pihak. .

Dalam alon-alon waton kelakon, seseorang mengemukakan bahwa kita “tidak dilahirkan dengan alam”, yang artinya kita dituntut untuk memperhatikan lingkungan daripada hanya mengejar kepentingan pribadi untuk mencapai tujuan kita. Kami juga mendorong kami untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Dalam alon-alon waton kelakon juga dianjurkan untuk “menjaga keselamatan”, yaitu menjaga keselamatan semua pihak, baik itu keamanan pribadi, mental maupun spiritual.

Tindakan kecil kita akan mempengaruhi semua aspek. Oleh karena itu, alon-alon waton kelakon merupakan saran yang tepat untuk kemajuan bersama. Alon-alon waton kelakon tidak sesederhana arti harafiahnya.

2. Saiki jaman edan yen ora edan ora komanan, sing bejo sing eling lan waspodo

Sumber : facebook.com

Era saat ini adalah era gila, yaitu era yang penuh dengan kebanggaan, fitnah, tipu daya dan ketidakjujuran. Kehancuran moral terjadi di semua aspek kehidupan. Dengan amanah, orang baik akan dimusnahkan oleh orang jahat, namun harus diingat bahwa mereka yang akan diselamatkan akan tetap mengingat Tuhan (suka cita) dan berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran / kebenaran (waspadalah).

Bahasa ini sangat cocok untuk situasi saat ini, dimana dunia menjadi semakin kacau, semakin kacau. Pada saat yang sama, makna filosofi Jawa tersebut di atas adalah “sekarang zaman kegilaan, siapa yang tidak gila tidak akan sampai, hanya yang mengingat Allah dan waspada terhadap yang beruntung”.

Tentu saja, saya berharap kami yang beruntung. Demikianlah beberapa pedoman, pandangan hidup atau filosofi Jawa yang tidak terlalu keren. Sekarang saatnya kita memikirkan kembali filosofi Jawa dan menasehati diri kita sendiri di era yang semakin kacau ini.

3. Ajinhing Diri Saka Lati, Ajining Saka Raga Busana

Sumber : mohyukandahlawy.tumblr.com

Kata Ajining diri saka lathi berarti seseorang dapat dihormati dan dihormati menurut perkataannya. Contohnya adalah jika seseorang berperilaku dengan benar, dia akan mendapatkan lebih banyak rasa hormat di komunitas atau masyarakat.

Orang yang berpengetahuan luas akan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak akan menyinggung perasaan orang lain. Tidak ada sikap sombong dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat juga disertakan.

Artinya, manusia harus selalu memperhatikan setiap perkataannya agar selalu mengatakan hal-hal yang baik tanpa berbohong. Selain itu, Paguyuban Bahasa Jawa juga memiliki beberapa tata krama lisan tertentu, misalnya: jika anak berbicara kepada orang tua, maka anak harus menggunakan bahasa Jawa (lembut), dan jika orang tua berbicara kepada anak maka dia dapat menggunakan bahasa tersebut. ngoko (Jawa).

Ajining Saka Raga Busana. Dalam masyarakat Jawa, berpakaian rapi juga memiliki nilai etiket. Artinya dari penampilan atau pakaian seseorang, seseorang akan menjadi sangat berharga.

Namun, bukan berarti mereka harus rendah hati meski pintar atau memiliki aset, lalu memakai pakaian yang tidak rapi (kusut), atau bahkan memakai kaos oblong di acara formal. Sebaiknya Anda berpakaian sesuai dengan kondisi atau lokasi. Selain pakaian, tubuh juga harus diperhatikan seperti wajah, rambut, dan bau tubuh.

Baca juga : Pengertian dari Design Grafis

4. Ngunduh Wohing Pangarti

Sumber : caknun.com

Pepatah Jawa dalam bahasa Indonesia adalah “Ngunduh Wohing Pakarti” yang artinya: setiap orang akan mendapatkan pahala yang layak diterimanya. Kami selalu akrab dengan motto ini: “Apa pun yang Anda tanam, Anda bisa menuai hasilnya.”

Selain itu, peribahasa ini ingin memberi tahu kita bahwa jika kita melakukan hal buruk, maka hal buruk juga akan kita temui di kemudian hari. Entah itu berasal dari itu atau apapun.

Intinya, peribahasa ini untuk berbicara tentang hukum keseimbangan, dalam bahasa Indonesia mungkin memiliki arti yang sama dengan peribahasa, siapa pun yang menabur tanaman, angin akan membawa badai.

Orang terkadang akrab dengan kelalaian. Kewajiban dan hak yang harus dipenuhi dalam kelalaian. Terkadang hal itu juga merampas hak orang lain sebagai investasi kekuasaan. Masih tidak bisa menahan karena keinginan.

Tanpa disadari, orang biasanya melakukan hal-hal yang kontradiktif, mengganggu ketertiban, dan merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Semua hal baik atau buruk menunggu jawaban.

Kita tahu bagaimana menebang pohon dan tumpukan bukit menjadi gundul, dan tidak ada lagi resapan air. Keserakahan menyebabkan bencana, dan banjir bandang ada di mana-mana. Anda tahu, itu bukan hak mereka menggunakan uang untuk memaksa partai politik. Kemudian hukum menjebaknya sebagai tahanan yang tidak berdaya.

Terkadang orang tua melupakan diri mereka sendiri, dan cinta mereka kepada anak-anak serta istri mereka diabaikan. Dia terlalu sibuk menghibur. Kemudian, ketika dia besar nanti, hidupnya terdampar tanpa dukungan karena kerabatnya berhenti mengganggunya. Kita juga sering melihat bahwa keluarga muda terpaksa menikah karena terlalu menikmati kebebasan berserikat.

Jaga mulut Anda dan perhatikan tangan Anda. Karena semuanya berhak diperlakukan. Jika tidak ada manfaatnya, tidak perlu sembarangan bicara. Tidak perlu melakukan sesuatu dengan sembarangan, karena semuanya bertanggung jawab.

Selain itu, Anda tidak perlu menyimpan dendam, karena semua kemalangan akan dihargai pada waktunya seperti kebaikan. Cobalah menjadi orang baik. Karena meski pahala tidak instan, perbuatan baik bisa mendatangkan pahala. Karena setiap orang akan mendapat madhorot dari tindakan mereka atau menjadi gila.

3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial
Filsafat

3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial

3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial – Indonesia adalah negara yang sangat beradab, dari situ akan terdapat kekayaan makna hidup dan pengalaman yang berarti. Salah satu peradaban yang menonjol dari pengalaman ini adalah kemampuan mengolah kata-kata.

3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial

Sumber : kangwiwid.com

newconnexion – Mari kita ambil contoh orang Yunani, mereka memiliki kemampuan sastra dan filosofis. Tidak ada keraguan bahwa orang Yunani memiliki reputasi dunia dalam masalah ini. Hal yang sama berlaku untuk orang Arab, Romawi, Persia, Cina, India, India, dll.

Seperti halnya pulau Jawa, pulau Jawa merupakan bagian dari pulau nasional Indonesia dan memiliki logat khas tersendiri.Bahkan makna filosofi Jawa seringkali tidak dipahami oleh kebanyakan orang.

Dan etnis Jawa di era modern ini. Hal ini dikarenakan orang tua tidak mengajarkan bahasa Jawa kepada anaknya, sebagian orang menganggap bahasa Jawa adalah bahasa kuno. Oleh karena itu, jika muncul kata “Wong Jowo ora njawani” itu salah, artinya orang Jawa tidak mengerti bahasa Jawa.

Filsafat Jawa dianggap bahasa kuno, pedesaan dan ketinggalan jaman. Padahal, jika kita mempelajari filosofi orang Jawa, maka warisan leluhur tersebut akan bertahan seumur hidup.

Warisan budaya pemikiran Jawa ini bahkan dapat menambah kearifan dan wawasan serta mengajari kita bahwa hidup kita selalu “Eling lan Waspodo” yang artinya mengingat dan tetap waspada.

Oleh karena itu saya akan berusaha untuk menjaga pengetahuan anda tentang budaya jawa terutama dari segi bahasa yaitu filosofi jawa agar kita bisa mengerti betapa kayanya budaya indonesia.

Berikut ini 3 Filsafat Kunci Kebersamaan Didalam Hidup Bersosial yang di kutip dari bukubiruku:

1. Nrimo Ing Pandum

Sumber : kantisuci.blogspot.com

Nrimo berarti terima dan Pandum berarti untuk memberi. Oleh karena itu, Nrimo ing Pandum berarti menerima semua hadiah tanpa meminta lebih. Konsep ini merupakan salah satu filosofi Jawa yang paling populer dan masih dianut oleh masyarakat hingga saat ini.

Beberapa ilmuwan sosial meyakini bahwa konsep ini menjadi salah satu penyebab rendahnya etika profesi dalam masyarakat Jawa. Para ilmuwan ini menduga, kecenderungan masyarakat Jawa menerima segala sesuatu akan mengakibatkan hilangnya motivasi kerja. Dengan cara ini orang bisa duduk diam dan menunggu hadiah.

Mengingat teori psikologi saat ini menjelaskan bahwa setiap perilaku manusia berasal dari kepentingannya sendiri, maka hipotesis ini diturunkan. Berawal dari metode psikoanalitik, metode ini mengasumsikan bahwa perilaku manusia disebabkan oleh dorongan internal, yang digambarkan oleh teori humanistik yang disebut “Id”, yaitu orang harus menjadi dirinya sendiri sebagai harapan individu.

Bahkan perilaku pro-sosial dianggap sebagai upaya untuk mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama sebagai balasannya. Dilihat dari teori munculnya rongga perut masyarakat yang individualistis ini, maka wajar jika semua perilaku manusia dimotivasi dan didorong oleh kepentingan pribadi termasuk dengan pekerjaan.

Tindakan tunggal hanya untuk pertimbangan diri sendiri. Praktik ini merupakan berbagai kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja individu sesuai dengan kebutuhan individu.

Baca juga : Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak

Seringkali kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu dari dunia, tetapi juga tentang mendonasikan sesuatu untuk dunia. Islam mengenal konsep “Kada” dan “Qada”, yaitu adanya syarat-syarat pengaturan Allah SWT.

Dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, kita dapat mengatakan bahwa di dunia ini, beberapa hal berada di luar kemampuan kita untuk mengerti.

Untuk mengatasi masalah ini, orang merealisasikan konsep tawakal dalam Islam. Tawakal artinya berserah diri kepada Allah SWT. Karena semua urusan kita serahkan kepada Allah SWT, maka kita harus dengan leluasa menerima setiap keputusan yang ada. Sekilas konsep ini mirip dengan Nrimo ing Pandum.

Konsep tawakal, seperti halnya Nrimo ing Pandum, sering dianggap bertolak belakang dengan konsep kerja keras atau kerja keras. Namun jika kita ingin mengamati dengan seksama, kedua konsep ini hanya menggambarkan suatu hubungan, yaitu bagaimana menerima rangsangan dari luar, bukan bagaimana memberikan rangsangan dari luar.

Padahal jika kita memiliki dua hubungan dengan dunia luar, yaitu menerima dan memberi. Kemampuan kita tidak hanya terletak pada menerima rangsangan eksternal, tetapi juga dalam memberikan rangsangan eksternal. Konsep donasi terkadang diabaikan.

Sejauh ini, kami berasumsi bahwa kami membayar sebagian karena kami ingin mendapatkannya. Dalam konsep Jawa, keinginan “memberi dan menerima” ini disebut pamrih.

Fungsi Tawakal dan Nrimo ing Pandum terkait dengan penerimaan rangsangan eksternal. Menurut Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) kebahagiaan adalah hasil pencapaian ekspektasi dalam realita, jika ekspektasi tidak terpenuhi maka akan terjadi semacam kesusahan.

Harapan adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Realitas berada di luar kemampuan kita. Dalam Islam dikenal bahwa Qadha dan Qadar sepenuhnya berada di tangan Allah (Shalat) SWT, yang berada di luar kemampuan manusia.

Tawakal dan Nrimo ing Pandum berperan di sini. Kedua konsep ini memiliki peran yang mengikat, sehingga manusia tidak memiliki ekspektasi yang tinggi, sehingga ketika fakta menjadi tidak konsisten, kesedihan tidak akan menyerang individu tersebut.

Konsep ini membantu kita menerima kenyataan. Tawakal membuat kita berserah diri kepada Allah SWT karena Dia telah menetapkan segalanya. Nrimoing Pandum membantu kami menerima segala sesuatu tanpa mengharapkan atau meminta lingkungan untuk membuat “kesalahan”.

Bagaimana cara mencobanya? Dalam Islam, selain tawarkal juga terdapat konsep usaha yang menuntut umat Islam untuk melakukan yang terbaik. Bahkan dalam rentang tertentu, konsep jihad sudah dikenal luas, dan itu menuntun kita untuk “mencobanya dengan serius”.

Rasula sendiri juga menegaskan bahwa wawakal bukan berarti tanpa kerja keras. Narasinya berbunyi: “Jika kamu benar-benar percaya kepada Allah, maka ketika burung-burung itu mendapatkan perawatan, Allah pasti akan memberimu tempat. Burung-burung itu pergi dengan lapar dan kembali pada sore hari.”

Hadis tersebut menjelaskan bahwa meskipun segala sesuatunya ditentukan oleh Allah SWT, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha. Oleh karena itu, keliru jika menganggap sikap tawakal mengarah pada rendahnya etika profesi masyarakat.

Pada saat yang sama, bagi orang Jawa, kita harus memberi tanpa syarat. Misalnya, sikap terhadap tamu menunjukkan bagaimana kita menempatkan orang lain di atas kepentingan kita sendiri.

Adanya semangat gotong royong dan gotong royong merupakan wujud nyata konsep bisnis dalam masyarakat Jawa. Ketika kita perlu bekerja tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga tanpa pamrih untuk orang lain.

Bukankah hidup sama sekali tentang memberi dan menerima? Terimalah dengan bebas apa yang diberikan kepada kita tanpa syarat, dan sediakan sebanyak mungkin barang tanpa pamrih. Inilah arti sebenarnya dari prinsip “Enlimu Empandan”, karena kami percaya hanya dia yang harus pasrah.

2. Mangan ora mangan sing penting ngumpul

Sumber : m.facebook.com

Mangan ora kumpul penting (tidak makan atau makan penting untuk kumpul-kumpul) biasanya dijelaskan secara dangkal dan dianggap tidak modern, sehingga tidak cocok digunakan saat ini.

Hal ini terjadi karena hanya makanlah yang menjadi kebutuhan utama dibandingkan dengan makan, padahal makanan lebih penting dari pada makan.

Oleh karena itu sebagian dari kita beranggapan bahwa ungkapan ini sudah tidak penting lagi. Jika sekarang ini jaman internet dan bisa dekat satu sama lain dengan dukungan kematangan teknologi, maka tidak perlu berkumpul bersama.

Filosofi ini didasarkan pada prinsip gotong royong yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Jawa (mungkin di seluruh Indonesia) pada saat itu. Keluarga merupakan elemen yang tidak terpisahkan dan penting.

Karenanya, saat salah satu dari mereka harus meninggalkan jalinan, sepertinya ada perasaan yang berat. Hubungan yang kuat dalam keluarga ini berdampak pada semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

Membangun rumah cukup untuk membayar sarapan dan makan siang satu RT. Sejauh menyangkut waktu makan, Anda bisa merasakan suasananya yang hangat. Keringat mereka masih membasahi tubuh mereka, jadi mereka menikmati makanan gratis sederhana disertai dengan canda satu sama lain. Saat pernikahan dilangsungkan, semua orang menawarkan diri untuk membantu.

Ungkapan “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul” bukan hanya terkesan tidak berarti. Berbagai situasi dan dinamika terjadi dalam keluarga atau masyarakat kita, sehingga ungkapan ini akan muncul.

Di era modern ini, harus kita akui bahwa mobilitas kehidupan manusia semakin meningkat. Itu pendek dan tertutup dari satu tempat ke tempat lain.

Ungkapan “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul” mulai menghilang dari pandangan. Banyak orang diperbudak oleh materi. Dari pagi hingga malam, mereka sibuk mencari kebutuhan dunia, bahkan ada yang hingga pagi.

Sampai batas tertentu, urusan keluarga diabaikan, terutama jika jarak dan waktu terpisah. Oleh karena itu, “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul” tidak lagi dianggap efektif. Berkumpullah, jika Anda tidak bisa makan, itu tidak berguna. Inilah situasinya hari ini.

Jadi, bagaimanapun juga, kehadiran fisik (berkumpul), interaksi langsung dengan orang yang kita cintai sangat penting dan tak ternilai harganya dibandingkan dengan perut kenyang.

Baca juga : Pengertian Grafik menurut Para Ahli dan Jenis Grafik

3. Wong jowo iki gampang di tekuk – tekuk

Sumber : mogimogy.com

Makna tarjamah kita pahami dari filasaft di atas, yaitu, “Orang Jawa itu gampang bengkok atau gampang ditekuk. Namun jika kita memahaminya dalam arti disentuh, tentu tidak akan mencapai arti yang sebenarnya.

Mudah dibengkokkan Pegawai jawa sangat Mudah bergaul dengan siapapun dan orang dari tingkatan manapun, selama ada pejabat, dikenal sopan santun dengan utusannya.

Ada beberapa cara bahasa atau cara untuk memposisikan diri menurut orang yang ada. Sama halnya dengan berbicara. Bahasa tersebut terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu ngoko, krama dan krama Inggil.

Menurut orang-orang di tempat kejadian, bahasa apa yang akan digunakan. Krama Inggil digunakan saat berurusan dengan orang tua, tamu atau pejabat. Istilah sopan teman. Bagi orang yang usianya lebih muda atau sebaya tetapi sudah sangat paham, gunakan bahasa ngoko.

Padahal, ada satu hal lagi yaitu bahasa kasar yang tidak tersampaikan di sini karena jarang digunakan. Meski orang Jawa biasanya bekerja keras, mereka patuh karena keluwesannya. Mereka tidak suka konflik. Mereka lebih baik tunduk untuk menghindari konflik.

Melalui fleksibilitas ini, mereka juga menganut filosofi hidup yang mengalir seperti air. Faktanya, orang Jawa itu sangat pemalu, tetapi mereka ingin selalu ramah setiap saat, sehingga terkadang orang akan melihat mereka hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi apa yang mereka hadapi. Mengapa mereka begitu fleksibel? Mereka dididik seperti itu sejak kecil.

Salah satu kemungkinan alasannya adalah bahan laporan yang mereka terima ketika mereka menjadi teman setelah lulus dan menjadi mandiri. Dianjurkan agar mereka menjadikan keseluruhannya berguna dan mampu hidup di sembarang tempat dan dalam kondisi apapun. Usul tersebut diwujudkan dalam lambang Tarub. Daun dan daun ditemukan di Tarub.

Namun hanya ada dua buah yang ditampilkan di sini, yaitu pisang dan kelapa (cengkir). Pisang melambangkan segala kegunaannya, termasuk buah, daun dan batang pohon. Pada saat yang sama, kelapa berarti mereka bisa hidup dimana saja. Keduanya mengajari mereka untuk menjadi fleksibel dalam hidup mereka.

Meski begitu, fleksibilitas ini bukanlah kelemahan mereka, melainkan kearifan mereka (sifat bijak), jadi jangan main-main dan gunakan untuk keuntungan negatif. Mereka memiliki harga diri dan sangat sensitif.

Ingat ungkapan yang disampaikan, yaitu “sedumuk bathuk sesuai bumi”, marilah kita membaca S.16 An Nahl ayat 125, yang artinya: “Panggil (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dan berdebatlah dengan baik. adalah Tuhanmu, kamu tahu lebih banyak tentang siapa yang menyimpang dari jalannya, dan Tuhannya lebih tahu tentang mereka yang dibimbing.”

Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak
Filsafat Informasi

Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak

Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak – Dalam filsafat, orang Jawa sering menggunakan unen-unen untuk mengatur kehidupan manusia. Di era modern ini, sebagian besar keturunan Jawa sering kali tidak memahami arti ungkapan-ungkapan Jawa tersebut. Karenanya, jika muncul “Wong Jowo sing ora njawani”, tidak ada salahnya.

Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak

Sumber : ayosemarang.com

newconnexion – Filsafat Jawa dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Dikutip dari egindo.co, filosofi leluhur ini ada di sepanjang kehidupan. Warisan budaya pemikiran Jawa ini bahkan dapat menambah wawasan tentang kearifan.

1. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha

Sumber : hi-in.facebook.com

Sugih tanpa Banda (orang kaya tanpa harta) Istilah “sugih” biasanya selalu dikaitkan dengan jumlah harta benda yang dimiliki seseorang. Kata “sugih” dalam ungkapan ini secara batin mengacu pada konsep kekayaan. Seseorang dapat memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa menunggu menjadi kaya.

Ketika Anda membutuhkan banyak orang, Anda sudah kaya di dalam. Ketika kehadiran Anda memiliki banyak arti bagi orang lain (kehadiran yang bermakna), maka Anda harus bersyukur atas rahmat Tuhan yang memberikan “manfaat” sehingga Anda memiliki kesempatan untuk melakukan “nandur kabecikan” (menanam kebaikan).

Digdaya tanpa aji (Sakti tanpa ajian / ilmu kesaksian). Digdaya mengartikan tidak mempan pada semua jenis senjata. Saat kita tidak memiliki musuh, tidak pernah menyinggung orang lain, toleran dan toleran, Aji dapat memberdayakan ke dalam berupa mantra atau benda (Neris, Ruby, Mace, Yellow Visi, dll).

Anda adalah senjata “tresna sejati” (cinta sejati) kami, yang tidak memberi alasan kepada orang lain untuk membenci, apalagi menyerang kami. Tresna yang sebenarnya adalah adil, dan semua makhluk memiliki hak untuk menikmati “tresna sejati” yang kita miliki. “Tres tresna” akan membebaskan kita dan mencapai perdamaian (kedamaian), ketenangan (tidak terganggu) dan lerem (pemantapan pikiran) orang.

Nglurug tanpa bala (Maju perang tanpa pasukan). Hidup itu seperti perang abadi, bukan fisik tapi batin. Ksatria tidak akan takut menghadapi sejumlah tentara buta. Setidaknya itulah yang tergambar dalam pertunjukan wayang golek di Perang Kembang.

Apakah Anda bekerja di lingkungan yang korup? Disitulah pertempuran itu terjadi. Musuh Anda bukanlah rekan / bos Anda yang korup, tetapi musuh terbesar kita adalah hasrat kita sendiri.

Makan dari gaji resmi dan menunjukkan kepada lingkungan sekitar bahwa Anda lebih bahagia. Jangan mengeluh jika ada kekurangan uang tunai. Jangan sombong secara mental, itu menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang paling suci dari semua orang. Ketulusan dan ketulusan akan menghasilkan pengaruh yang tidak pernah terpikirkan oleh Anda.

Menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan orang lain). Anda tidak pernah berpikir bahwa hidup adalah persaingan. Kita harus selalu berdiri di atas “kebenaran yang tulus”.

Terbiasa berdialog dengan hati nurani kita, dalam keheningan (ketenangan) dan keheningan (pikiran kosong), kita membiarkan Tuhan berbicara tentang hukum kebaikan dan kejahatan, yang tidak boleh, mulia atau mulia, dll. Biasakan mendengarkan suara-Nya. Otak kita terkadang “bersih” (menipu). Sesuai dengan kebiasaan agama Anda, berdoa pada tengah malam (12:00 AM). Melindungi setiap kata juga merupakan senjata ampuh.

Jangan mencegah atau menghalangi orang lain untuk mewujudkan mimpinya, tetapi harus secara aktif membantu orang lain untuk mewujudkan keinginan mereka. Realisasi cita-cita hanya kepuasan fisik, dan mengatasi kecemburuan, kecemburuan, kesombongan, dll. Itu adalah kemenangan yang nyata. Kemenangan seperti itu adalah kemenangan yang tidak mengalahkan orang lain.

Baca juga : 5 Filsafat Pegangan Orang Jawa

2. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman

Sumber : m.facebook.com

Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman” dalam bahasa Indonesia, yang artinya tidak terlalu terobsesi atau terbatas pada keinginan akan status sekuler, materialisme dan kepuasan.

Terlalu terpesona, sifat ini akan membuat seseorang menjadi ambisius, mungkin ambisius, tetapi jika demikian, kadang-kadang akan membuktikan apakah ada cara yang benar atau salah, ini yang paling penting, apakah keinginan mereka terpenuhi, Hasilnya dibutakan, tetapi tidak bisa menikmati hasil ini.

Posisi, tidak ada kekurangan orang yang bersedia melakukan apapun untuk kekuasaan, jabatan dan jabatan. Ambisi dan obsesi yang berlebihan membuat seseorang hanya mendapatkan posisi.

Harta/benda adalah sesuatu yang berhubungan dengan materi atau properti. Sunan Kalijaga telah memberikan kita semua wawasan yang sangat dalam.Oleh karena itu, kita tidak hanya terlalu mementingkan kekayaan, tetapi mengutamakan untuk membuat kita melupakan diri kita sendiri, Lupakan hal materi apa yang benar dan salah
Kepuasan sekuler, semua orang berharap untuk menjalani kehidupan yang bahagia di dunia ini dan di masa depan, tetapi yang perlu Anda ketahui adalah bahwa kebahagiaan di dunia ini abadi. Artinya hanya ada kehidupan kekal sementara di akhirat.

Oleh karena itu, Sunan Kalijaga mengingatkan kita melalui pameran ini untuk selalu mengingat kehidupan akhirat dan tidak berpuas diri dengan kehidupan dunia yang sementara ini. Sampai seseorang mengejar kebahagiaan dan pekerjaannya sendiri tetapi tidak tahu waktu, tidak mengingat Tuhan, dll.

3. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka

Sumber : youtube.com

Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka Artinya jangan sampai merasa diri Anda yang terpintar, agar tidak disesatkan. Jangan menipu atau mengkhianati, agar tidak diselamatkan dan tidak disakiti di masa depan.

Jika dijelaskan sesuka hati, pepatah Jawa ini mengajari kita untuk selalu rendah hati. Dia memiliki kekayaan properti, tetapi dia tidak pernah memamerkan propertinya. Lebih pintar, tetapi tidak selalu merawat diri sendiri.

Memiliki kekuatan, tetapi tidak bisa diunggulkan. Sebaliknya, tetap sederhana seperti orang normal. Jika Anda sudah merasa orang yang paling cerdas, paling mampu, terbaik, terkaya, dan paling super yang mengutamakan ego dan kesombongan. Paling banter, biasanya terlalu banyak, salah arah, dan akhirnya berujung bencana.

Oleh karena itu, tidak peduli profesi apa yang Anda geluti, tidak peduli seberapa kuat Anda, yang terbaik adalah tetap rendah hati dan rendah hati! Untuk menyelamatkan dirimu nanti.

4. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo

Sumber : facebook.com

“Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo”. Artinya: Jangan mudah tertarik dengan hal-hal yang terlihat bagus dan indah, dan jangan cepat berubah pikiran, jadi jangan menyesal pada akhirnya.

Filosofi nenek moyang Jawa ini mengingatkan kita untuk memiliki hati yang teguh dalam memilih atau berkeyakinan, dan tidak mudah berubah pikiran atau pendapat karena hal lain terkesan lebih baik dari pilihan sebelumnya. Manusia harus selalu waspada, karena penampilan terkadang bisa menipu. Apa yang tampak bagus di luar belum tentu berguna baginya.

Bagi banyak orang, mungkin kebiasaan mengembangkan kebiasaan mempermudah mengembangkan hal-hal yang tampan dan indah mungkin menjadi kebiasaan. Dengan cara ini kebanyakan orang tidak akan mempertimbangkan kualitas, keuntungan dan penggunaan. Ketertarikan mereka hanya didasarkan pada penampilan mereka. Akhirnya penyesalan akan muncul di masa depan.

Beberapa contohnya adalah: seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap terkadang tergiur dengan pekerjaan lain yang dianggap lebih baik, dan lebih bersedia memberikan gaji yang tinggi dan menjamin kemakmuran di masa depan.

Tetapi mereka tidak mempertimbangkan apakah pekerjaan baru itu cocok dengan keterampilan dan kemampuan mereka, dan apakah mereka bersedia bekerja di lingkungan baru. Setelah berganti pekerjaan, mereka biasanya menyadari bahwa keputusan untuk berganti pekerjaan itu salah.

Contoh lain, seseorang yang ingin memiliki jodoh. Banyak orang yang memilih pasangan hidup ini dalam anggaran belanja yang ceroboh dan sangat penting, yang penting menjadi pasangan. Yang Anda lihat hanyalah wajah yang cantik dan tampan, fisik yang baik, seksi, kemampuan atletis, terlepas dari kebiasaan hidup orang tersebut, perilaku sehari-hari mereka, dan seberapa baik keyakinan agama mereka.

Baca juga : Danau Tengkorak di India Yang Menjadi Misteri

5. Aja Adigang, Adigung, Adiguna

Sumber : id.quora.com

Sebuah (biasanya) nasihat yang baik untuk generasi berikutnya. Karena hikmat orang tua adalah memikirkan apa yang paling cocok untuk keturunannya. Hanya mereka yang tersesat akan berpikir bahwa keturunan mereka akan menjadi buruk secara prosedural.

Dalam kamus bahasa Jawa “Bausastra Jawa-Indonesia”, susunan S. Prawiroatmojo (1980) dijelaskan sebagai berikut, Adigang: membual tentang kekuatannya, Adigong: Membual, Adiguna: bangga menjadi pintar

Kata “Aja” berarti tidak. Saat kita ingin berpikir, kata-kata yang disarankan menjadi lebih dalam. Aja Adigang, jangan bangga dengan kekuatanmu. Kekuatan bisa berupa kekuatan fisik, kekuatan kolektif, atau kekuatan bersama.

Di zaman kerajaan kuno, kekuatan fisik zaman nasihat ini telah ditingkatkan. Hukum rimba menentukan siapa yang memiliki tubuh kuat, dia akan menjadi pemenang dan menempati posisi tertentu di kerajaan. Siapa yang memiliki persatuan terbesar, dia akan menjadi pemenang.

Kekuatan fisik akhir-akhir ini sepertinya tidak terlalu populer. Namun di beberapa bagian masyarakat, masih sedikit masyarakat yang mengandalkan kekuatan fisik. Gambar sederhana, misalnya, massa, dan menonjol dari massa.

Kekuatan aliansi memiliki arti yang lebih abstrak. Model sesungguhnya adalah persatuan orang-orang yang turun ke jalan di era chaos 1998. Kalau modelnya hanya dibawa ke jalan oleh perwakilan, ya tentu saja sepia tidak akan berpengaruh apa-apa.

Aja Adigung, jangan membual tentang menjadi hebat. Ada banyak macam kebesaran. Sangat bagus untuk orang-orang dengan indikator lokasi. Posisinya bisa di pemerintah atau non-pemerintah. Kebesaran ini melekat pada pemimpin, dan pemimpin memiliki bawahan. Presiden, gubernur, bupati, kamatt, lula / lurah, ketua RT, kepala bagian, kepala bagian, atasan, mandor, dsb.

Jika tidak dilandasi oleh niat baik, maka di dalam hati mereka akan merasa bangga (dan sombong) atas prestasi yang diraih. Kebanggaan (biasanya) menghilangkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab mereka. Jika Anda kehilangan kewaspadaan, konsekuensi negatif yang seharusnya tidak terjadi akan datang.

Sayangnya, bagi orang-orang berbakat itu, ini sudah menjadi kebiasaan (mungkin budaya). Melihat orang lain semakin kecil. Bahkan pada tahap yang lebih lanjut, terkadang anak-anak dan istrinya akan membual tentang kehebatan ayah dan suaminya. Dalam contoh kecil, terdapat kalimat: “Hati-hati jangan main-main, dia anak pejabat”.

Jangan membual tentang menjadi hebat. Kebesaran itu relatif. Kebesaran hanya bersifat sementara. waktu terbatas. Bagi mereka yang mengalami “post-power syndrome”, hidup akan menjadi neraka prematur bagi sebagian orang. Sekarang tersanjung (meski sebagian dipalsukan), suatu hari akan ditinggalkan.

Aja Adiguna, jangan membanggakan kepandaian. Tolok ukur kepandaian sebenarnya tidaklah satu. Orang yang sukses dalam bisnis, ia dianggap pandai dalam terapan bisnis itu. Belum tentu itu diperoleh oleh orang-orang yang punya gelar sarjana dalam ilmu ekonomi. Tetapi masyarakat saat ini masih tetap melihat kepandaian seseorang dari apa yang diterakan dalam rapor, nilai rapor, transkrip nilai dan sejenisnya.

Gelar akademik demikian pula, orang akan jeri ketika melihat gelar seseorang demikian mentereng. Jika kompetensi asli seperti apa yang tertera dalam ijazah, memang itu yang diharapkan. Kompetensi yang dimiliki diamalkan untuk kemaslahatan orang banyak, itu memang yang seharusnya.

Menurut anjuran ini, tidak perlu membual tentang kecerdasan. Kecerdasan tidak boleh dibanggakan. Biarkan orang lain menilai. Siapa yang memiliki ilmu yang luas dan ilmu yang mendalam benarkah demikian?, Jika dia dipuji oleh orang lain untuk kepentingan orang lain, tetapi tidak didengar olehnya, maka dia akan menjadi lebih bermakna.

Itu semua tergantung kita. Jangan sombong, bagi sebagian orang energi yang “berani” justru akan menjadi energi negatif. Orang tua di zaman kuno belajar dari berbagai situasi, memikirkannya, dan sampai pada kesimpulan bahwa bangga akan kekuatan, keunggulan, dan bakat sebenarnya kontraproduktif.

5 Filsafat Pegangan Orang Jawa
Informasi

5 Filsafat Pegangan Orang Jawa

5 Filsafat Pegangan Orang Jawa – Indonesia memiliki banyak tradisi dan budaya. Apalagi budaya Jawa masih dilestarikan. Budaya ini mencakup kata-kata mutiara atau kutipan filosofis. Sayangnya, tidak semua orang memahami prinsip-prinsip rujukan bahasa Jawa.

5 Filsafat Pegangan Orang Jawa

Sumber : kangwiwid.com

newconnexion – Hal ini dikarenakan orang tua saat ini tidak selalu mengajarkan bahasa dan budaya Jawa kepada anak-anaknya, karena menurut mereka bahasa Jawa itu kuno. Muncul kutipan “Wong Jowo ora njawani” yang artinya orang Jawa tidak mengerti bahasa Jawa.

Namun jika kita teliti, maka filosofi orang Jawa merupakan warisan nenek moyang kita dan telah digunakan selama berabad-abad. Karena peninggalan ini akan membuat kita selalu “Eling lan Waspodo” artinya mengenang dan tetap waspada.

Setiap orang pasti punya filosofi masing-masing. Filsafat atau filosofi hidup yang kokoh dalam perjalanan hidup. Indonesia memiliki banyak filosofi yang luar biasa dan unik. Salah satunya adalah falsafah hidup atau falsafah hidup orang Jawa.

Filsafat Jawa terkenal dan sarat makna. Nah, jika Anda orang Jawa, pasti Anda akan merasakan betapa bergunanya filosofi ini dalam hidup Anda.

Berikut ini beberapa Filsafat Pegangan Orang Jawa yang di kutip dari goodnewsfromindonesia :

1. “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”

Sumber : facebook.com

Jawa memiliki banyak tradisi dan budaya. Salah satunya adalah tatanan formal atau tradisi lisan yang disarankan oleh Jawa. Kata pitutur berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pelajaran, nasehat atau peringatan (Prawiroatmodjo, 1957: 507). Pitutur biasanya dikomunikasikan melalui peribahasa, lagu macapat, dongeng, dialog suara, dll.

Salah satunya adalah sura dira jayaningrat, yang melebur pangastuti. Artinya hanya dengan sikap arif, lembut dan sabar kita dapat mengatasi semua sifat keras kepala, remeh, dan pemarah (Hernanda Rizky, 2018: 328). Faktanya, segala bentuk amarah yang melekat pada manusia dapat dihilangkan melalui sifat-sifat baik, seperti kelembutan namun ketegasan, simpati namun tidak ada preferensi dan keramahan. Setiap kata dalam puisi itu memiliki arti tersendiri.

Suro artinya keberanian. Setiap orang memiliki sifat pemberani, yang bisa memiliki makna positif maupun negatif. Ketika orang tidak bisa mengendalikan keberanian, sifat keberanian bisa menjadi sifat negatif, dan manusia akan terpengaruh oleh kejahatan, keberanian mendominasi dan marah.

Pada saat yang sama, Diro berarti kekuatan. Orang Yang Mahakuasa memberikan hadiah kepada umat manusia dengan kekuatan fisik dan spiritual. Demikian pula manusia harus memiliki keberanian, harus memiliki kemampuan dan memanfaatkan kekuatan batinnya dengan sebaik-baiknya, agar manfaat yang diberikan kepadanya tidak akan disia-siakan, melainkan akan menimbulkan kemarahan dan kejahatan.

Kemudian, keunggulan berarti kemuliaan. Kemuliaan adalah hasil dari keberanian dan kekuatan. Ketika manusia memiliki kemuliaan, tetapi tidak memiliki kualitas yang baik untuk menyamai dirinya, mereka akan menjadi sombong, sombong, sombong, dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama.

Selain itu, bangsawan berarti dihormati. Orang yang terhormat harus kecanduan kesenangan duniawi yang melimpah atau bahkan berlebihan. Bentuk harta atau jabatan atau gelar bangsawan.

Meleleh berarti dihancurkan, lenyap, diserahkan atau diserahkan, dan hilang. Setiap ciri kemarahan atau kejahatan bisa ditundukkan dan dihancurkan oleh kebaikan dan kelembutan. Pada saat yang sama, penyangkalan adalah kombinasi makna.

Pangastuti artinya cinta atau kebaikan. Yang disebut kebaikan mengacu pada penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kebajikan antara manusia dan kebajikan antara manusia dan alam.

Kebaikan kepada Tuhan adalah dengan menyembahnya, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Ketika manusia dapat melakukan hal-hal yang baik, maka mereka akan menerima anugrah dari Tuhan, Anugrah bisa dalam bentuk apapun, seperti bebas dari rasa khawatir.

Di saat yang sama, kita sering melihat kebaikan kepada rekan-rekan kita di masyarakat, seperti bagaimana orang saling menghormati dan membantu. Ketika manusia melakukan perbuatan baik kepada sesama, manusia juga akan mendapatkan pahala berupa kebaikan.

Selain itu niat baik terhadap alam adalah menjaga dan melestarikan alam. Ketika manusia dapat melindungi alam daripada merusak alam untuk keuntungannya sendiri, alam akan memberikan kepada manusia apa yang terkandung dalam alam

Sura dira jayaningrat, lebur den pangastuti adalah falsafah masyarakat Jawa yang lebih baik. Orang Jawa percaya bahwa hanya dengan sikap arif, lembut dan sabar kita dapat mengatasi semua sifat keras kepala, remeh, dan pemarah. Sesuai dengan karakter orang jawa, mereka memiliki hati yang lembut dan sabar. Saat berhadapan dengan orang yang tamak dan kuat, mohon menyerah sebanyak mungkin. Bukan karena dia cuek, tapi orang Jawa biasanya menghindari pertengkaran yang berujung pada pemutusan hubungan.

Sampai saat ini sebagian masyarakat Jawa masih menggunakan Pitutur sebagai pedoman hidup. Karena pitutur memiliki nilai moral religius, maka hal itu menjadi norma bagi manusia bijak. Dengan cara demikian, manusia selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk. Manusia percaya pada hukum sebab dan akibat, dan jika mereka melakukan perbuatan baik, mereka akan mendapatkan hasil yang baik. Jika mereka melakukan hal-hal buruk, hasilnya akan buruk.

2. “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”

Sumber : youtube.com

Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro (Manusia yang hidup di dunia harus berjuang untuk keamanan, kebahagiaan dan kemakmuran; menghilangkan kemarahan, keserakahan dan keserakahan).

Hidup di dunia ini harus selalu mengupayakan keamanan, kebahagiaan dan kemakmuran, serta menghilangkan amarah, keserakahan dan keserakahan. Siapakah yang pada dasarnya marah, dan tamak?

Tentu saja, mulailah dengan hal yang paling dekat, yaitu sifat batiniah kita. Kelangsungan hidup adalah sifat manusia. Jika kita terbebas dari keserakahan, maka kebahagiaan hidup akan menjadi panen tambahan. Itu mengalir melalui hidup kita secara alami.

Rasa keserakahan ini bisa menimbulkan kecemburuan, inti dari kecemburuan adalah bahwa kemarahan adalah bencana. Untuk diri sendiri dan orang lain, “rak uripmu akan menutupi iso”. Cemburu itu wajar, itu adalah pendorong yang diberikan oleh Tuhan untuk memungkinkan kita terus bertahan dan meningkatkan kualitas hidup. Kecemburuan akan melahirkan motivasi yang lebih baik. Kombinasi kecemburuan dan kecemburuan dan bencana itu berbahaya.

Lalu, apakah kita tetap diam saat orang lain kesal? Bukankah seharusnya itu diberantas? Ya, tapi bukan amarah, tapi kesabaran dan kelembutan. Ini seperti air yang mengikis setetes demi setetes batu jika diperlukan. Tentu hal ini sangat menantang karena kita harus melakukannya di dalam hangkoro batin kita terlebih dahulu.

Bukan berarti mulai dari perasaan damai itu akan muncul pikiran-pikiran yang jernih dan bisa dimengerti, kedamaian seperti ini hanya mungkin terjadi bila kita jauh dari amarah, keserakahan dan keserakahan.

3. Urip Iku Urup

Sumber : kompasiana.com

Istilah urip iku urup berarti “hidup harus selalu menyala”. Jika kita mulai menjelaskannya dengan cara orang awam, maka kata “nyala api” mungkin merujuk pada sifat api. Keberadaan api dalam kehidupan setidaknya sangat diperlukan, sama seperti esensi “nyala api”, ia memiliki makna kehidupan yang mencerahkan. Tentu saja, bahkan di pusat tata surya, matahari memiliki sifat seperti nyala api.

Bisa juga dikatakan bahwa jika tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki sifat “nyala api”, maka dapat dipastikan kegelapan akan mendominasi. Mungkin kita tidak akan mengenali berbagai warna dalam hidup kecuali kegelapan itu sendiri.

Pepatah Jawa “urip iku urup” memang sangat tua dan memiliki sejarah yang panjang, hingga saat ini sudah dihormati oleh masyarakat Jawa. Namun pada prinsipnya, ajaran “urip iku urup” tidak cukup hanya dihormati. Seperti yang dikatakan Ronggowarsito, masih ada kebutuhan untuk mengamalkan, yaitu “ilmu iku kelakone kanti laku” yang artinya ilmu itu harus sampai pada amalan.

Arti “urip iku urup” dimaknai sebagai kondisi yang diperlukan bagi kehidupan untuk membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Layaknya lilin yang menyala di malam yang gelap, kita selalu bisa merasakan manfaatnya. Mungkin kita bisa merasakan ungkapan “urip iku urup” begitu klasik dan umum. Namun nyatanya, keberadaan ajaran ini tidak malu-malu. Artinya, kita masih bisa mempraktikkan ajaran semacam ini dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan bijak masyarakat Jawa ini menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia adalah negara yang hebat. Dalam hal ini, yang penting bukan hanya luas wilayahnya, tetapi juga pemikiran dan keluasan batin setiap elemen negara ini.

Jadi jika ini adalah ajaran orang Jawa, apakah mereka tidak bisa mengamalkannya kecuali orangnya? tentu saja tidak. Setiap daerah tentunya memiliki wawasan arifnya masing-masing, namun kemanapun kita memandangnya, pada dasarnya kebajikan universal tetaplah esensi kehidupan. Ajaran “urip iku urup” tidak hanya panggilan orang Jawa, tetapi juga panggilan seluruh alam semesta.

4. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman

Sumber : elinds.com

Aja Gumunan artinya jangan heran. Sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan komunitas, kita harus bisa memposisikan diri dengan tepat. Ketika orang biasa bisa meraih kesuksesan, kita tidak perlu heran. Misalnya kemajuan teknologi yang sangat modern seperti saat ini. Kita tidak perlu heran dengan ini, tetapi kita harus belajar untuk menguasainya. Dengan cara ini kita tidak akan ketinggalan zaman.

Marah artinya menjadi pribadi, bukan mudah mengeluh dan menyesal. Filosofi ini memberi tahu kita bahwa setiap keputusan yang kita buat akan mengarah pada hasil yang baik atau buruk. Misalnya, kita membantu seseorang, tetapi setelah orang yang kita bantu berhasil, mereka melupakan layanan yang kita berikan. Kita tidak perlu menyesali apa yang telah kita lakukan, yakinlah, meskipun mereka melupakan perbuatan baik kita, suatu saat kita akan mendapatkan pahala atas perbuatan baik dari orang lain.

Aja Kagetan berarti kita sebagai manusia tidak akan mudah dikejutkan oleh segala hal. Atasi setiap masalah dengan tenang. Filosofi ini mengajarkan kita untuk hidup dengan hati-hati dan waspada.

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

Sumber : twitter.com

Artinya dari Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan adalah “Jangan mudah terluka saat bencana melanda, atau jangan sedih saat kehilangan sesuatu”. Tidak peduli tragedi apa yang mungkin terjadi, hidup kita harus terus berjalan, dan kita harus tetap berpikiran positif.

Kutipan Seputar Kehidupan Oleh Socrates
Artikel Blog Filsafat Informasi Teori

Kutipan Seputar Kehidupan Oleh Socrates

Kutipan Seputar Kehidupan Oleh Socrates – Kehidupan sebagai manusia pada dasarnya adalah sebuah hal yang patut kita syukuri dan dijalani dengan sangat hati-hati agar senantiasa bermanfaat dan tidak menyakiti, baik diri sendiri maupun orang lain. Hal-hal seperti ini tertuang dalam ajaran-ajaran seputar fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Studi ini disebut dengan filsafat. Studi ini mengajarkan manusia untuk selalu berpikir secara matang dan kritis sebelum berucap dan bertindak. Dengan begitu, tidak ada lagi terjadi hal-hal negatif yang dapat melukai jiwa seseorang. dengan mempelajari filsafat kita juga dapat memahami dengan benar eksistesi kita sebagai makhluk hidup, yang selalu berkaitan dengan alam dan dari situ juga kita dapat mempelajari banyak hal.

Salah seorang figur filsafat (biasa disebut dengan filsuf) yang paling penting di dalam tradisi filosofis adalah Socrates. Socrates adalah seorang filsuf asal Athena, Yunani, sebuah negara yang pada saat itu paling maju tentang ilmu pengetahuan. Socrates lahir di Athena pada tahun 469 SM. Pria ini masuk ke dalam 3 tokoh paling penting dalam dunia filsafat sejajar dengan Plato dan Aristotekes. Socrates adalah guru Plato. Socrates adalah ikon cikal bakal lahirnya ilmu pengetahuan. Melalui pemikiran-pemikirannya inilah lahir ilmu filsafat sebagai cikal bakal ilmu pengetahuan yang nantinya akan digunakan oleh seluruh orang di dunia. Namun naas, filsafatnya justru yang membawanya ke bukit kematian karena pada masa itu, lebih banyak anggota yang menganggap pemikirannya tidak masuk akal ketimbang menganggap pemikirannya itu benar. Socrates mati dalam ketidakadilan.

Semasa hidupnya, Socrates memiliki seorang murid yang patuh dan setia terhadapnya, yaitu Plato, calon tokoh filsuf berpengaruh di generasi sleanjutnya. Plato seringkali menuliskan ajaran-ajaran dan diksusi yang dilakukannya dengan Socrates. Diantara diskusi-diskusinya tersebut, lahirlah kalimat-kalimat filsafat terkenal seperti di bawah ini :

Kebijaksanaan yang sejati adalah mengetahui bahwa kamu tidak tahu apa-apa.
1. Kalimat ini adalah kalimat yang sering kita dengar dalam konteks menuntut ilmu. Dijelaskan dimana semakin kita tahu akan sesuatu, kita akan semakin merasa rendah dan tidak tahu apa-apa. Kita akan semakin merasa bahwasanya masih ada langit di atas langit. Hal ini jugalah yang sering disampaikan oleh Socrates kepada masyarakat Athena pada masa sebelum akhirnya ia dijatuhi hukuman meminum racun karena berdasar hasil voting 500 peserta, 280 menyetujui eksekusi matinya. Kalimat Socrates tersebut dianggap terlalu radikal dan merendahkan oranf-orang disekitarnya, terutama para petinggi Athena pada saat itu. Padahal, maksud yang hendak disampaikan oleh Socrates adalah agar kita sebagai manusia selalu tidak berhenti dalam memperluas pengetahuan dan pikiran kita akan sesuatu, namun snantiasa selalu berendah hati.

2. Cinta Yang Menggebu-Gebu memiliki akhir yang paling dingin.
Dalam hidup kita, pastilah kita pernah bertemu dengan satu orang, entah itu teman, atau pasangan yang dirasa paling spesial. Entah karena dia adalah satu-satunya, yang pertama, kedua atau bahkan terakhir. Membaranya perasaan sayang/cinta di awal adalah suatu hal yang wajar dirasakan manusia sebagai makhluk yang berperasaan, namun apabila kita tidak menerapkan prinsip filsafat dimana keseimbangan antara pikiran dan perasaan, maka bisa perasaan sayang/cinta tadi menjadi bumerang untuk diri kita sendiri. Socrates ingin menyampaikan kepada kita semua untuk selalu memiliki hidup yang balance dan tidak boleh berlebihan dalam membenci dan mencintai. Karena segala sesuatu yang memilki awal maka akan memiliki akhir juga.

Pentingnya Belajar Ilmu Filsafat
Artikel Blog Filsafat Informasi Teori

Pentingnya Belajar Ilmu Filsafat

Pentingnya Belajar Ilmu Filsafat – Bagi sebagian orang mendengar istilah filsafat mungkin sudah tidak asing lagi. Berbicara mengenai filsafat bagi orang awam pasti akan langsung pikiran tentang kehidupan manusia. Lalu apa itu sebenarnya filsafat? Filsafat sendiri merupakan suatu bidang ilmu dimana materi yang dipelajari yaitu mengenai cara berfikir. Orang yang belajar filsafat akan dituntut untuk dapat mempertanyakan suatu keadaan. Lalu bagi mereka yang belajar mengenai ilmu filsafat ini maka akan didorong untuk dapat memformulasikan dan juga mengokohkan pandangan mengenai suatu hal. Terlebih pandangan tentang permasalahan yang ada di dunia ini. Dimana orang-orang yang belajar filsafat ini akan belajar juga mengenai kesesatan pemikiran yang biasanya terjadi di dunia ini. Anak filsafat juga cenderung akan memiliki sifat kritis terhadap suatu bentuk, contohnya karya seni. Dengan belajar filsafat maka belajar juga bagaimana dapat mengerti karakteristik ilmu pengetahuan dapat berpikir secara kritis atau mengkaji dimana suatu bentuk perbuatan bisa dikatakan baik atau bisa dikatakan juga perbuatan yang buruk. Bagi anak-anak filsafat pentingnya empati juga sangat berpengaruh dan juga dipelajari.

Belajar mengenai ilmu filsafat sangatlah penting. Ketika anda dapat mengerti dengan baik sebagaimana kegunaan dari filsafat hidup ini maka anda akan mampu memiliki kemampuan seperti di bawah ini.

1. Kemampuan berpikir kritis
Bagi mereka yang paham benar dengan filsafat kehidupan ini maka mereka akan mampu berpikir secara kritis. Melakukan tindakan secara global dan mengambil keputusan terburu-buru bukanlah ciri dari mereka yang paham benar dengan filsafat hidup ini. Mereka cenderung akan memikirkan sesuatu hal dengan matang dan baru akan mengambil keputusan tersebut.

2. Kemampuan bernalar dengan logis
Filsafat hidup mengajarkan cara pandang kita menghadapi suatu bentuk permasalahan. Kita akan dituntut dimana dapat berpikir secara lebih logis mengenai suatu permasalahan atau kejadian yang sedang terjadi saat ini. Dibandingkan dengan berpikir menggunakan hati filsafat hidup mengajarkan kita bahwa berfikir juga harus logis dan sesuai dengan kenyataan yang ada.

3. Kemampuan berargumentasi
Yang selanjutnya yaitu bahwa filsafat hidup mengajarkan kita untuk dapat berargumentasi. Tentu kita perlu melakukan atau mengemukakan pendapat yang kita miliki. Namun yang perlu digarisbawahi di sini bahwa tidak semua pendapat kita harus diterima oleh orang lain. Adakalanya bahwa kita juga harus meng menerima atau menghargai pendapat orang lain.

4. Kemampuan komunikasi
Dengan lebih mengetahui secara dalam mengenai filsafat hidup ini, maka secara tidak langsung kemampuan komunikasi kita juga akan lebih meningkat. Kita diajarkan untuk dapat mengemukakan suatu bentuk argumen. Secara bersamaan kita juga akan dapat belajar berkomunikasi yang baik dengan orang lain.

5. Kemampuan observasi
Filsafat hidup mengajarkan kita untuk dapat mengobservasi baik itu permasalahan atau kejadian yang ada di dunia ini. Menganalisa suatu bentuk kegiatan ataupun keadaan yang saat ini sedang terjadi. Itu mungkin suatu hal biasa bagi mereka yang paham benar filsafat hidup namun mungkin akan terasa aneh bagi orang lain.

6. Kemampuan meneliti
Dengan segala hal yang telah dilakukan seperti dapat berpikir secara kritis dan juga kemampuan observasinya yang baik, maka mereka yang belajar mengenai filsafat hidup akan memiliki kemampuan meneliti yang baik. Mereka akan belajar berpikir secara kritis.

7. Kemampuan melakukan analisis
Filsafat hidup akan mengajarkan kita dalam menganalisis suatu pemikiran atau permasalahan. Dimana dalam hidup selalu butuh pertimbangan yang nyata.

Itulah beberapa kemampuan yang dapat dimiliki Ketika seseorang belajar mengenai ilmu filsafat. Sehingga akan sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari atau kedepannya nanti.

Filsafat Bagi Kehidupan Manusia
Artikel Blog Filsafat Informasi Teori

Filsafat Bagi Kehidupan Manusia

Filsafat Bagi Kehidupan Manusia – Kebanyakan orang sudah tidak asing lagi dengan kata filsafat. Namun tidak jarang dari mereka menganggap bahwa filsafat ini merupakan suatu ilmu yang susah atau sulit untuk dipahami bagaimana ujungnya. Bagi orang awam, filsafat dianggap sebagai suatu ilmu yang kurang positif bagi kehidupan manusia. Namun pada dasarnya filsafat ini merupakan ilmu yang positif bagi kehidupan manusia. Dimana jika kita belajar mengenai ilmu filsafat ini maka kita dapat dituntut untuk dapat berpikir lebih berkonsep lagi. Kita akan diajarkan bagaimana mengarahkan pola pikir kita serta menggali lebih lanjut pemikiran yang ada namun dalam konteks yang lebih abstrak. Ketika kita belajar mengenai filsafat ini maka kita akan didorong untuk dapat berpikir secara lebih kritis lagi. Dilihat dari sisi lain bahwa filsafat ini tidak hanya berorientasi kan pada pola pikir saja namun juga pada eksperimen. Sehingga dari situlah akan memberikan suatu bentuk pemaknaan baru bagi manusia dalam hal menyikapi berbagai macam persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari ini.

Seperti yang telah dikatakan oleh seorang filsafat didunia yang berasal dari salah satu anggota bahwa dalam kehidupan manusia ini tentunya kita mengharapkan suatu bentuk kehidupan yang lebih baik lagi. Tidak menginginkan suatu bentuk kemunduran terhadap kehidupan kita sebagai manusia. Sehingga untuk dapat mewujudkan tujuan kehidupan manusia tersebut perlu adanya suatu usaha. Usaha tersebut dapat lebih terarah dan juga dibentuk. Pembentukan manusia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi dapat diperoleh dengan cara mendapatkan pendidikan ataupun berbagai macam ilmu pengetahuan. Pendidikan yang dibutuhkan yaitu mengenai diri sendiri dan juga berbagai aspek kehidupan yang ada di dunia ini. Filsafat inilah merupakan ilmu yang tidak jauh-jauh dari konsep hidup manusia sendiri. Dalam kehidupan Ilmu Filsafat ini memberikan pengarahan kepada kehidupan manusia yang lebih baik dengan lebih bijaksana serta pemikirannya yang lebih kritis lagi.

Dalam hal pendidikan pengetahuanlah yang menjadi unsur utama dalam pembentukan aspek kehidupan manusia yang lebih baik lagi. Karena kita semua tahu semakin banyak atau luas pengetahuan manusia maka manusia tersebut dapat berkembang menjadi lebih luas dan lebih baik lagi. Dengan adanya pengetahuan tersebut maka manusia dapat lebih paham membedakan suatu hal yang baik dan suatu hal yang buruk. Dimana apa yang diketahui pada pengetahuan tersebut akan digambarkan secara umum namun dalam ilmu filsafat ini akan terlihat lebih masuk akal lagi. Ketika kita belajar mengenai filsafat hidup maka tidak hanya menerima semua hal secara sembarang, tetapi juga harus dipikirkan secara kritis dan juga matang. Pengetahuan dalam filsafat ini akan lebih mengarahkan kepada pengetahuan ataupun ilmu mengenai diri sendiri dan juga berbagai macam persoalan kehidupan yang ada di dunia ini. Karena setiap orang yang bisa memahami dirinya sendiri lebih baik daripada siapapun maka hidupnya akan menjadi lebih baik lagi bagi dunianya sendiri. Dengan kata lain mereka akan lebih bersyukur lagi.

Dengan berbagai macam pengetahuan yang lebih luas mengenai aspek kehidupan yang ada di dunia ini maka ketika ada suatu bentuk perubahan manusia tersebut dapat melakukan adaptasi atau menyesuaikan diri dengan lebih cepat lagi. Untuk itu belajar memahami ilmu pengetahuan tentang filsafat hidup sangatlah penting bagi manusia. Selain diajarkan untuk berpikir secara kritis juga kita dapat eksperimen serta observasi. Karena dalam ilmu filsafat sendiri pemikiran serta gagasan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Filsafat Dan Pencapaian Taraf Hidup Yang Lebih Baik
Artikel Blog Filsafat Informasi

Filsafat Dan Pencapaian Taraf Hidup Yang Lebih Baik

Filsafat Dan Pencapaian Taraf Hidup Yang Lebih Baik – Dalam menjalankan kehidupan, manusia tentunya selalu berupaya untuk memperoleh taraf kehidupan yang baik. Hal ini merupakan tujuan setiap insan dalam menjalankan kehidupan. Oleh sebab itu, guna mencapai taraf kehidupan yang baik atau lebih baik dari sebelumnya, maka dibutuhkan pengarahan dan pengajaran. Hal ini dapat diwujudkan melalui adanya sebuah ilmu pengetahuan yang terbagi dalam berbagai aspek dan bidang. Beberapa contoh aspek kehidupan seperti agama, sosial dan budaya bisa dibilang sebagai aspek pokok dalam mrnjalankan kehidupan. Hal ini dikarenakan agama ialah hubungan manusia dengan sang pencipta atau Tuhannya sedangkan aspek sosial sangat erat kaitannnya dengan corak kehidupan sehari-hari serta hubungan timbal balik interkasi antar sesama manusia. Selanjutnya kebudaayan bisa berupa cara atau terapan dari ilmu-ilmu yang bersifat teoritis dalam menjalankan kehidupan.

Berdasarkan tiga aspek kehidupan diatas, tidak bisa dipisahkan dari adanya filsafat mengingat filsafat ialah induk dan sumber dari segala sumber ilmu yang ada saat ini.
Seperti contohnya yakni beberapa cabang ilmu dari aspek sosial manusia bisa meliputi ilmu komunikasi atau ilmu sosiologi yang di dalamnya juga terdapat filsafat komunikasi dan filsafat sosiologi. Dalam aspek sosial kehidupan, pola interkasi yang muncul bersifat horizontal atau setara sedangkan aspek agama bersifat vertikal karena membahas hubungan manusia dengan Tuhannya.

Pencapaian kehidupan yang baik dibutuhkan unsur terpenting yakni pengetahuan. Dalam hal ini, pemahaman mengenai suatu pengetahuan tidak cukup hanya secara tekstual saja, melainkan juga pemahaman secara filsafati atau kontekstual yang membutuhkan analisa atau tafsir terlebih dahulu. Selain itu, pemikiran kritis, logis dan masuk akal termasuk sebagai salah satu faktor penentu terwujudnya kehidupan manusia yang lebih baik.

Dengan demikian, peran filsafat dalam mewujudkan kehidupan manusia yang lebih baik sangatlah besar. Hal ini dikarenakan filsafat merupakan tahap pemikiran segala sesuatu secara mendalam sampai Ke akar-akarnya seperti apa yang banyak orang katakan. Sedangkan filsafat ilmu ialah pemahaman ilmu atau pengetahuan dari prespektif yang berbeda yakni lebih dalam dibandingkan pemahaman pada umumnya. Oleh sebab itu, banyak dihasilkan pemikiran ilmiah disertai analisis kritis dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Disamping itu, segala cabang ilmu yang ada pada saat ini pasti bisa ditinjau dari sudut pandang filsafati Hal ini terbukti dari adanya berbagai Macam jenis filsafat keilmuan yang kini diajarkan dalam pendidikan tinggi seperti kuliah dan sejenisnya. Sama halnya pada konsep dasar filsafat yakni mengkaji suatu hal secara mendalam sampai ke akarnya karena tahap pelajaran secara filsafati juga diperuntukkan untuk pendalaman lanjut serta tidak cocok diterapkan dalam bangku sekolah.

Itulah arti penting mengenai filsafat dalam kehidupan manusia yang dinilai banyak memberikan pengaruh, baik dalam kehidupan nyata atau perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan mempelajari suatu hal sampai ke tahap filsafat menuntut agar kita dapat berfikir secara logis dan sistematis serta mengembangkan kemampuan analisis mengenai suatu hal yang dikaitkan dengan sebab dan akibat yang ditimbulkan. Meski kadang terkesan berat dan memaksa kita untuk berpikir lebih dalam, namun filsafat bisa memberikan banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Seperti salah satu contohnya yakni pemikiran para filsuf terdahulu yang banyak menuangkan pengaruh terhadap kehidupan saat ini, baik itu melalui kata-kata atau tulisannya. Sama halnya dengan filsafat kehidupan yang menuntut kita berpikir kritis mengenai sebab dan akibat kita hidup di dunia saat ini.