New Connexion – Informasi Tentang Filsafat Hidup

New Connexion Memberikan wacana tentang filsafat hidup yang memiliki sensitivitas pada praksis keseharian tanpa mereduksinya ke perkara-perkara teknis yang dapat menyelesaikan masalah secara instan.

Sejarah Falsafah Orang Jawa

Sejarah Falsafah Orang Jawa – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, filsafat mengacu pada asumsi, pemikiran, dan sikap batin paling mendasar yang dimiliki oleh individu atau masyarakat sebagai pedoman hidup.

Sejarah Falsafah Orang Jawa

Sumber : phinemo.com

newconnexion – Oleh karena itu, filosofi senantiasa menyertai setiap olah raga dan aktivitas individu dan komunitas pemeluknya.

Dari sudut pandang hidup dan sikap batin, falsafah hidup akan menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan dalam setiap masalah yang dihadapinya.

Tidak hanya mempengaruhi kehidupan seseorang, sikap dan perilaku langsung maupun tidak langsung juga akan berdampak pada kehidupan orang tersebut, mulai dari unit terkecil (yaitu keluarga, kelompok masyarakat daerah, negara hingga dunia) yang memiliki pengaruh terbesar terhadap kehidupan.

Hal tersebut tidak lepas dari kegiatan filosofis saat berfilsafat atau menentukan pandangan hidup. Menurut filosofi Endraswara, inilah cara berpikir.

Sejak manusia menyadari keberadaannya di dunia, sejak saat itu, ia mulai memikirkan tujuan hidup, kebaikan, dan kebenaran Tuhan. Berdasarkan pandangan tersebut, kesadaran akan eksistensi diri mendorong manusia untuk memikirkan realitas di luar dirinya, dalam hal ini kehidupan, kebenaran, dan tujuan Tuhan.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Hasbullah Bakry mengartikan filsafat sebagai suatu jenis ilmu yang melakukan kajian mendalam terhadap segala hal yang berkaitan dengan ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menjadi esensi rasionalitas dan bagaimana sikap masyarakat seharusnya menghasilkan ilmu. Setelah mendapatkan ilmu ini.

Menurut wikipedia, filsafat adalah keinginan yang dalam akan kebijaksanaan, atau keinginan yang dalam akan kebijaksanaan. Berdasarkan sudut pandang di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah upaya untuk merenungkan dan mempelajari kebenaran, ketuhanan, dan sifat manusia secara mendalam.

Setelah menguasai hakikat ilmu ini, semoga mengembangkan sikap yang bijak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan hasil kegiatan filosofis, pandangan hidup dan sikap psikologis yang paling mendasar yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat.

Salah satu elemen dasar yang harus ada dalam setiap filosofi adalah kearifan. Karena kearifan sebagai buah dari aktivitas filosofis akan menghasilkan pandangan hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, ketuhanan dan kemanusiaan.

Dari etimologi, sejarah hingga mitologi, sejarah Pulau Jawa ada bermacam-macam versi. Sejarah terbentuknya Pulau Jawa dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Hindu kuno yang menyebutkan bahwa Jawa dulu adalah sebuah pulau bernama Nusa Kendang yang merupakan bagian dari India.

Baca juga : 4 Filsafat Jawa Supaya kita Berhati-hati

Terpisahnya Pulau Jawa dari Benua India kemungkinan disebabkan oleh lempeng tektonik dan aktivitas vulkanik berabad-abad yang lalu. Ada juga yang berpendapat bahwa kata dalam bahasa Jawa berasal dari bahasa Sansekerta yava yang berarti tanaman barley, tanaman yang membuat pulau ini terkenal.

Dikatakan juga bahwa Yawadvipa disebutkan dalam epik India “Ramayan”, di mana Suvariva (Komandan Wanara) mengirim utusan ke Yawadvipa (Pulau Jawa) untuk mencari Dewi Shinta.

Sumber : akarasa.com

Dugaan lain adalah bahwa istilah Jawa berasal dari akar kata Austronesia asli, yang berarti rumah (Abimanyu 2014: 22). Dari segi mitologi, ada sebuah cerita yang dianggap sebagai pelopor bahasa Jawa dan asal muasal aksara Jawa.

Menurut Endraswara, cerita ini terkenal dalam budaya Jawa, banyak versi yang salah satunya ditulis dengan Serat Ajisaka (tanpa nama) yang menyatakan bahwa tokoh ini (Ajisaka) sudah dihuni dan diciptakan sebelum ia datang ke sana. Jawa, seorang raja besar memimpin.

Misi Ajisaka adalah menerangi pulau Jawa. Artinya, ia bertanggung jawab memberikan ilmu (peradaban) dengan menghancurkan Cengkar Dewata (lambang kebodohan), sedangkan menurut Kronik Jawa W.L Olthof, raja pertama Jawa adalah keturunan Nabi Adam.

Berikut kutipan dari karya W.L Olthof yang diterjemahkan oleh HR. Sumarsono (Sumarsono) adalah babad Raja Jawa, dimulai dengan Nurcahya (Nurcahya), putra Adam, putra Sith, dan Nabi Adam (Nurasah). Sanghyang Wening, putra Nurasa. Snghyang Wening memiliki seorang putra Sanghyang. Sanghyang Tunggal memiliki putra Batara Guru.

Batara Guru memiliki lima orang putra, Batara Sambo, Batara Brama, Batara Maha-Dewa, Batara Wisnu dan Dewi Sri. Batara Wisnu menjadi raja Jawa dengan nama Prabu Set. Batara Guru’s kerajan terletak di Sura-Laya.

Walaupun sebagian ahli berpendapat bahwa karya ini kurang objektif karena mengandung terlalu banyak mitos daripada fakta, namun Babad Tanah Jawa merupakan salah satu bahan tertulis terlengkap yang merekam apa yang terjadi di berbagai peristiwa di Jawa.

Bertentangan dengan pandangan Suseno, Suseno mengatakan bahwa sekitar tiga tahun sebelum Masehi, para imigran Melayu pertama dari Tiongkok selatan mulai membanjiri Asia Tenggara, dan terjadi beberapa gelombang dalam dua ribu tahun berikutnya.

Orang Jawa diyakini sebagai keturunan dari orang Melayu berikut ini. Pandangan ini dianggap paling masuk akal karena relatif non-mitos, meskipun tidak memiliki materi tertulis yang mendukung pandangan tersebut dan tidak persuasif.

Pandangan lain tentang asal-usul orang Jawa dikisahkan dalam Serat Asal Keraton Malang: Pada 350 SM Raja Rum 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan dipimpin Aji Keler. Pengiriman ini merupakan pengiriman kedua karena pengiriman pertama gagal karena semua kurir sudah dikembalikan ke negara asalnya pada 450 SM.

Gelombang kedua juga gagal, karena hanya tersisa 40 pasang. Hal ini mendorong raja untuk mengirim lebih banyak utusan, membuat lebih banyak persiapan, dan menyediakan alat yang lebih lengkap untuk mencegah generasi pertama dan kedua diserang oleh binatang buas.

Gelombang ketiga jelas berhasil dan akhirnya menyebar ke pedalaman Jawa yang terbuka. Secara arkeologi, menurut Koentjaraningrat dari Hrustotto, nenek moyang orang Jawa merupakan manusia tertua yang hidup di Indonesia sekitar satu juta tahun lalu.

Para antropolog menamai fosil tersebut Phythecanthropus Erectus. Banyak fosil muda ditemukan di Lembah Sungai Bengawan Solo di Provinsi Jawa Tengah, dan mereka diberi nama “Homo Soloensis” oleh para ahli.

Perkembangan budaya Jawa tidak terlepas dari perkembangan kerajaan nusantara. Periode kerajaan ini dimulai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu pada abad ke-6 hingga ke-8, seperti Kerajaan Kalinga, Sriwijaya, dan Mataram Budha.

Pada saat yang bersamaan, menurut beberapa ahli dalam Herusatoto (2000), ajaran Hindu mulai masuk ke Indonesia bersamaan dengan penghitungan tahun Saka, kira-kira pada tahun 78 M. Beberapa kerajaan yang termasuk dalam kerajaan Hindu antara lain Mataram Kuno, Kediri, Singasari dan Maya Pasit.

Bersamaan dengan itu, ketika Demak ditetapkan sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa sekitar tahun 1500 M, masa kejayaan kerajaan Hindu mulai runtuh. Pada era saat ini, Pulau Jawa merupakan pulau terpadat di Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2010 jumlah penduduk Pulau Jawa telah mencapai 137 juta dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 238 juta jiwa, sehingga terdapat lebih dari separuh penduduk Indonesia di Pulau Jawa, Indonesia.

Meski luas pulau relatif kecil dibandingkan dengan pulau lain seperti Sumatera dan Kalimantan, fenomena kepadatan penduduk ini tergolong normal karena Jawa sebagai pusat pemerintahan tampaknya menarik pendatang dari luar Jawa.

Namun, tidak semua orang yang tinggal di pulau Jawa bisa disebut orang Jawa.

Suseno meyakini bahwa yang disebut orang Jawa adalah orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa asli. Bahasa Jawa adalah penutur asli bahasa Jawa di bagian tengah dan timur pulau Jawa.

Lebih khusus lagi, proyek penelitian ini tidak mencoba membahas bahasa Jawa secara umum. Lebih tepatnya, ia hanya akan mempelajari sekelompok orang yang tergolong orang Jawa.

Endraswara mencontohkan bahwa ras adalah istilah yang merujuk pada tipe manusia berdasarkan budaya, tradisi, bahasa, masyarakat, dan pola keturunan, bukan pembagian ras, karena pembagian ras dianggap jenis yang ditentukan secara biologis, dipalsukan oleh manusia.

Berdasarkan pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor genetik / reproduktif belum tentu menjamin seseorang menjadi anggota suatu ras tertentu, dalam hal ini orang Jawa.

Untuk dianggap sebagai orang Jawa, setidaknya ada satu orang yang memiliki budaya, tradisi, bahasa dan model sosial yang sama di samping keturunan Jawa.

Sedangkan daerah yang menjadi orientasi budaya Jawa antara lain Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Pada saat yang sama, Yogyakarta dan Surabaya dianggap sebagai pusat utama kebudayaan Jawa.

Meskipun Jakarta, Tangerang, Banten dan daerah lainnya secara geografis termasuk dalam wilayah Pulau Jawa, namun tidak disebut Jawa karena bukan orang Jawa. Namun perlu dipahami bahwa tidak ada lembaga atau individu yang berhak melegalkan identitasnya sebagai orang Jawa atau non-Jawa.

Ketika berbicara tentang pandangan Franz Von Magnis (Jatman, 1997), ia mengatakan bahwa bahasa Jawa sebenarnya merupakan konstruksi teoritis dan tidak melibatkan beberapa kelompok individu tertentu.

Pandangan ini menjadi dasar untuk melihat bahasa Jawa dan benda-benda lainnya. Hal ini penting untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu tentang apa itu bahasa Jawa dan siapa, dan untuk membagi bahasa Jawa menjadi njawani dan ora njawani Jawa.

Dalam tulisan ini, bahasa Jawa berarti seseorang yang menganut tradisi, bahasa, dan model sosial budaya Jawa. Secara geografis dapat disimpulkan bahwa orang Jawa adalah individu yang dipengaruhi oleh dan dekat dengan pusat budaya Jawa (Yogyakarta dan Surakarta).

Namun demikian itu generalisasi, dalam tulisan ini ditegaskan kembali bahwa orang Jawa berarti orang yang menganut tradisi, bahasa, dan model sosial budaya Jawa, bukan hanya mereka yang tinggal di daerah dengan kondisi geografis dan pengaruh budaya Jawa yang kuat.

Baca juga : Dekorasi Ulang Tahun Anak-anak

Falsafah Hidup Orang Jawa

Sumber : youtube.com

Menurut Endraswara, falsafah hidup orang Jawa bisa berupa apa saja yang dapat memberikan pandangan dunia, dan kepercayaan tersebut dipraktekkan sebagai nilai yang selalu memotivasi kehidupan orang Jawa. Hal tersebut sesuai tentang pengertian filsafat sebagai cara hidup.

Padahal, menurut Mulder, cara berpikir orang Jawa merupakan perilaku mental yang mampu menekan gejala dan pengalaman dan juga memperjelasnya. Ciptoprawiro mengungkapkan gagasan menariknya dalam buku “Filsafat Jawa”, ia menemukan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar, membedakan makna filsafat dari sudut pandang orang Jawa, dan membedakan filsafat dari sudut pandang Barat.

Filsafat dalam perspektif Jawa berarti ngudi kasampurnaan (mencari kesempurnaan), sementara filosofia dalam bahasa Yunani berarti ngudi kawicaksanan (mencari kearifan).

Menurut pandangan dari Barat, filsafat bisa diartikan sebagai upaya untuk memperoleh kebijaksanaan, dan pencarian kebijaksanaan didapatkan melalui pencarian pengetahuan. Sains merupakan hasil dari aktivitas berpikir kritis, yang menalar segala sesuatu melalui kontemplasi, diskusi, dan aktivitas lain yang menggunakan logika dalam logika.

Sementara itu, dalam pandangan orang Jawa tidak mungkin memperoleh ngudi kasampurnaan atau mengejar kesempurnaan hanya dengan kegiatan berpikir. Dalam mencari ngudi kasampurnaan, seorang orang jawa akan selalu terus berusaha untuk memperoleh kesempurnaan, karena pada alasnya kesempurnaan hanya milik Tuhan, jadi tugas manusia untuk mengejar kesempurnaan bukanlah suatu sebagai tujuan, tetapi untuk mengingatkan kita manusia bahwa manusia itu tidak sempurna, dan harus jadilah saat sedini mungkin dalam hidup mereka dalam mencari suatu kesempurnaan melalui Ngudi Kasampurnaan.

Bagi para penghayat ilmu tasawuf, kesempurnaan ini bisa tercapai bila keinginan orang Jawa akan Manunggaling Kawula Gusti terpenuhi.

Endraswara melihatnya dari sudut pandang yang lebih religius dalam bukunya “The Religion of Java” dan meyakini bahwa bahasa Jawa Dwipa menggunakan bahasa Jawa sebagai cara hidup untuk menentukan arah hidup yang lebih damai.

Ada pula yang mengatakan bahwa Dwipa Jawa adalah asli atau murni Jawa. Selain dari filosofi Jawa, para penyair Jawa juga telah membuat berbagai karya sastra berupa Tengbang, Tawarikh,  dan Suruk.

Selain berasal dari sumber-sumber tersebut, unen-unen (ungkapan tradisional) juga telah populer. Menurut Endraswara, unen-unen disebut juga dengan filosofi paruh baya Jawa, yaitu bentuk filosofi tuturan lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

Penggunaan sumber-sumber tersebut sejalan dengan pandangan Yasassusastra bahwa filosofi dalam sastra Jawa bersifat praktis dan terjalin dalam berbagai buku baik berupa dongeng maupun doktrin kebajikan.

Filsafat hidup orang Jawa yang terbentuk ratusan tahun yang lalu telah mengalami berbagai pengaruh dari zaman prasejarah, kerajaan Buddha, Hindu, zaman Islam hingga penjajahan.

Berdasarkan hal tersebut maka filosofi Jawa yang disebutkan dalam proyek penelitian ini adalah filosofi Jawa yang berkembang selama ini. Pada hakikatnya filosofi Jawa yang berkembang saat ini adalah sejenis kearifan budaya yang sudah ada pada jaman Budha India, namun sangat dipengaruhi oleh Islam.

Mengingat masih ada dua pemuja utama budaya Jawa yang menganut ideologi Islam yaitu Yogyakarta dan Surakarta, ini merupakan fenomena alam.
Filsafat hidup orang Jawa dalam tulisan ini tidak seluruhnya merupakan pemikiran, asumsi, dan sikap dasar orang Jawa atau ras Jawa, seperti arti kata “filsafat” dalam kamus bahasa Indonesia.

Filsafat hidup orang Jawa di kala ini hanya berbentuk konstruksi teoritis pengarang, yang bertumpu pada beberapa rujukan tertulis dan non-tertulis tentang nilai dan kearifan yang erat pada kehidupan orang Jawa.

Konstruksi teori dalam teori ilmiah modern mengacu pada skema / struktur / gambaran, bukan kesimpulan induktif yang ditarik dari data atau hasil inferensi, tetapi didasarkan pada kepastian intuitif dan bertujuan untuk mencapai kejelasan logis. Semoga struktur ini akan membantu dalam memahami sesuatu dengan lebih baik.

Berdasarkan pandangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa falsafah hidup orang Jawa adalah suatu kepercayaan, dan kepercayaan ini merupakan konsep nilai yang dapat menginspirasi kehidupan masyarakat Jawa yang terjalin dalam berbagai cara dalam bentuk dongeng, Tembang, epigram, pidato lisan, dll.

Related Posts

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Show Buttons
Hide Buttons