New Connexion – Informasi Tentang Filsafat Hidup

New Connexion Memberikan wacana tentang filsafat hidup yang memiliki sensitivitas pada praksis keseharian tanpa mereduksinya ke perkara-perkara teknis yang dapat menyelesaikan masalah secara instan.

Filsafat Hindu Sad Dharsana dan Filsafat Nastika

Filsafat Hindu Sad Dharsana dan Filsafat Nastika – Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Kata “Filsafat” dalam bahasa Indonesia setara dengan “Filsafat” (Arab), “Filsafat” (Inggris), “Filsafat” (Latin), dan Filsafat (Jerman, Belanda, Prancis).

Filsafat Hindu Sad Dharsana dan Filsafat Nastika

Sumber : cute766.info

newconnexion – Hampir semua istilah yang digunakan dalam bahasa ini berasal dari kata Yunani “filsafat”. Secara etimologis, asal mula kata “filsafat” dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu “philein” yang mengungkapkan cinta dan “sophos” yang mengungkapkan arif, sehingga filsafat mengungkapkan cinta untuk hal-hal yang bijak.

Kedua, filsafat berasal dari kata “philos” yang artinya teman, dan “sophia” yang artinya hikmat, oleh karena itu filsafat adalah teman yang bijak. Dalam sejarah, orang pertama yang menggunakan istilah “filsafat” adalah Pythagoras, yang mengaku sebagai filsuf, yaitu pencinta kebijaksanaan.

Sad Darsana sebagai filsafat Hindu

Sumber : intiphindu.blogspot.com

Dilansir dari wikipedia, Dalam tradisi intelektual India, istilah Dasana adalah yang paling dekat dengan filsafat (Barat), tetapi ada perbedaan yang sangat mendasar pada hakikatnya, Filsafat (di Barat) tidak ada hubungannya dengan agama, sedangkan Dasana berakar pada agama Hindu.

Kata darsana berasal dari kata “drs” yang artinya melihat (masuk) atau mengalami, dan menjadi kata darsana yang artinya penglihatan atau persepsi tentang realitas. Dalam hal ini, “melihat” bisa berarti observasi persepsi atau pengalaman intuitif.

Secara umum, “darsan” mengacu pada wacana kritis, penyelidikan logis, atau sistem. Menurut Radhakrisnan, istilah “darsana” juga berarti sistem pemikiran yang diperoleh melalui pengalaman intuitif dan dipertahankan melalui argumen logis. Secara filosofis, darsana sendiri adalah kata paling awal yang digunakan dalam Sutra Weseska Kanada.

Filsafat Hindu (darsana) adalah proses rasionalisasi agama dan merupakan bagian integral dari agama Hindu. Agama memberikan aspek praktis dari ritual, sedangkan darsana memberikan aspek filosofis, metafisik dan epistemologis, sehingga agama dan darsana saling melengkapi.

Darsana berawal dari upaya manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan transendental di alam, dan titik awalnya adalah hidup dan mati. Mengapa orang lahir? Apa tujuan lahir? Dan apa kerugian manusia saat mereka mati? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah titik awal darsana.

Filsafat Hindu umumnya dianggap berpusat pada Atman, yang artinya segala sesuatu dimulai dengan Atman dan diakhiri dengan Atman. Dalam proses pembelajaran selalu mengarah pada tujuan hidup yang tertinggi yaitu moksa, dan semua proses berpikir dan perasaan selalu mengarah pada tujuan tersebut.

Oleh karena itu, filsafat India bukanlah proses berpikir tanpa tujuan. Mencapai atman adalah tujuan dari setiap darsana, meskipun Veda telah menyatakan dalam berbagai identitas “Atma va’re drastavyah” (atman untuk direalisasikan) atau dikembalikan ke posisi semula atman sebagai hamba Tuhan yang kekal.

Atman merupakan prinsip inti dari setiap kehidupan, sehingga perlu dipahami keberadaannya. Intinya, dalam konteks agama dan dassana terdapat landasan, yaitu ada prinsip yang kekal dalam diri manusia yaitu manusia.

Atman sebagai prinsip ruh, tubuh sebagai prinsip materi, atman sebagai entitas yang mandiri dan abadi, selalu murni dan tidak ternoda. Mengembalikan manusia abadi ke sumber kehidupan abadi adalah tujuan bersama antara Dasana dan agama. Atman dalam “Bhagavad Gita” diuraikan sebagai berikut:

Acchedya artinya tidak terluka oleh senjata. Adahya berkata itu tidak akan terbakar. Akledya artinya tidak dikeringkan. Athesia yang tak terbantahkan. Nitya berarti keabadian.

Baca juga : Ilmu, Agama, dan Aspek Histori Filsafat Kristen

Sarwagatah bisa dilihat dimana-mana. Sthanu berkata untuk tidak bergerak Acala berkata jangan bergerak. Arti Sanatama selalu sama. Awyakta artinya belum lahir. Achintya artinya luar biasa. Awikara artinya tidak berubah.

Karena sifat pandangan darsana sebagai hasil dari aktivitas “melihat”, maka dapat dikenali bahwa terdapat beberapa pandangan filsafat darsana dalam tradisi intelektual India. Secara global Filsafat India (Weda) terbagi menjadi dua kategori, yaitu :

Pandangan Ortodoks Timur, juga dikenal sebagai Astika, adalah bahwa kelompok tersebut secara langsung atau tidak langsung menyetujui otoritas Weda sebagai sumber ajarannya. Terdiri dari 6 aliran filsafat (Sad Darsana), aliran-aliran ini akhirnya disebut filsafat Hindu, antara lain: Nyaya, Vaisesika, Samkhya, Yoga, Purwwa Mimamsa, Wedanta (Uttara Mimamsa).

Pandangan yang heterodox, disebut juga sebagai Nastika, kelompok ini tidak mengakui otoritas Veda sebagai sumber dari ajarannya. Ini terdiri dari Carwaka, Jaina, dan Buddha.

Enam aliran filsafat Hindu (sad darsana) adalah konsep yang saling terkait: 1. Nyaya dan Waiseika, 2. Samkhya dan yoga, 3. Mimamsa dan Wedanta. Vaisesika adalah perpanjangan dari Nyaya, Yoga adalah perpanjangan dari Samkhya, dan Wedanta adalah perpanjangan dan penyempurnaan dari Samkhya.

Wedanta (puncak ajaran Veda) sebagai filsafat, yang diturunkan langsung dari kitab suci Upanishad, dianggap sebagai sistem filsafat yang paling memuaskan. Dari tafsir filosofis Wedanta, terbentuk berbagai aliran pemikiran, antara lain: konsep wisistadwaita Ramanujacarya, konsep adwaita Sankaracarya, dan konsep dwaita Sri Madhwacarya, konsep Acintya bheda abheda tattva Sri Caitanya.

Masing-masing gagasan filosofis tersebut memecahkan tiga masalah pokok, yaitu: pertanyaan tentang Brahman, alam, dan Atman (spiritual). Selain tiga aliran pemikiran yang diturunkan dari filosofi Vedanta, terdapat beberapa aliran pemikiran lainnya, tetapi mereka lebih merupakan kombinasi dari ketiga konsep pemikiran tersebut.

Filsafat Nastika Sekilas

A. Carwaka

Sumber : linggashindusbaliwhisper.com

Filsafat Carwaka dibangun oleh Brhaspati, dan ajarannya terkandung dalam kitab suci Buddha Brhaspati. Sistem filosofis ini mengembangkan tradisi sesat, ateisme, dan materialisme. Ini sering disebut lokayata, yang artinya jalan sekuler.

Kata “carwaka” sendiri berasal dari “caru” (manis) dan “vak” (bunyi), jadi carwaka berarti kata-kata manis. Carwaka berbicara tentang kesenangan sensual, yang merupakan tujuan hidup tertinggi.

Carwaka juga berarti materialis, ia percaya bahwa manusia dibentuk oleh materi dan tidak percaya pada keberadaan atman dan Tuhan, sehingga bentuk ini biasanya dianggap hedonisme Timur.

Pengetahuan yang efektif hanya dapat diperoleh melalui pratyaksa (persepsi), yaitu melalui kontak langsung dengan indera. Alam terbentuk hanya oleh 4 butas yang merupakan unsur materi yaitu: udara, api, air dan bumi. Tujuan tertinggi dari orang yang rasional adalah memperoleh kebahagiaan sejati di dunia dan menghindari penderitaan.

B. Jaina

Sumber : agamaminorr.wordpress.

Filsafat Jaina adalah sistem filsafat yang mengembangkan ateisme tetapi tradisi spiritual. Kata Jaina sendiri berarti “penakluk spiritual”. Para penganut Ina percaya pada 24 tirthangkara (pendiri iman), yang pertama adalah Rsabhadeva dan yang terakhir adalah Mahavira. Sistem menekankan aspek etika yang ketat, terutama Amsa.

Jaina membagi ilmu menjadi 2 kategori, yaitu:

Aparoksa: Pengetahuan langsung, termasuk avadhi (kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh indera), manahparyaya (telepathi) dan kevala (semua yang mengetahui).

Paroksa: pengetahuan menengah, termasuk kematian (termasuk pengetahuan perseptual dan inferensial) dan sruta (pengetahuan yang diperoleh dari otoritas).

Jaina menerima tiga jenis prana, yaitu pratyaksa (persepsi), anumana (penalaran) dan sruta (otoritas). Jaina percaya bahwa ada keragaman dalam roh, dan roh ada sesuai dengan jumlah tubuh.

Tidak hanya roh pada manusia, hewan, dan tumbuhan, tetapi juga roh pada debu. Roh memiliki kualifikasi tinggi dan rendah, tetapi setiap orang terikat oleh pengetahuan yang terbatas. Belenggu dapat dilepas dengan metode berikut:

Memiliki keyakinan yang sempurna pada ajaran para empu agama tersebut. Pengetahuan yang benar dalam ajaran ini. Perilaku yang benar. Perilaku ini termasuk tidak merugikan dan merugikan seluruh makhluk, menghindari, menyelinap dan menempel pada indera.

Dengan tiga hal ini, perasaan akan dikendalikan, dan karma untuk menahan roh akan lenyap sampai roh mencapai kesempurnaan alaminya yang tak terbatas. Jaina tidak percaya akan keberadaan Tuhan, dan Tirthangkara menggantikannya. Jaina mengetahui lima disiplin spiritual, termasuk:

Ahimsa (tanpa kekerasan). Satya (Kebenaran). Astoria (Jangan mencuri). Brahma (realisasi pantang, realisasi pikiran, kata dan tindakan yang baik). Aparigraha (melekat pada pikiran, ucapan, dan perilaku).

Baca juga : Sejarah Lengkap Colosseum di Roma Italia

C. Budha

Sumber : gesuri.id

Filsafat Budha berawal dari ajaran Buddha Shakyamuni pada abad 567 SM, ajarannya di dapat dikatakan ateis dan spiritual. Sang Buddha menekankan moralitas, amal, persaudaraan, menolak sistem kasta (penyimpangan dari sistem Varna), menolak otoritas Weda dan adat istiadat Yakin.

Tujuan akhir dari perjalanan hidup adalah nirwana, bukan pemberian dari dewa dan dewa, tetapi hadiah dari usaha sendiri. Wahyu yang diperoleh Sidharta Gautama mencakup empat kebenaran utama (catvari arya-satyani), yaitu:

Ada kebenaran tentang penderitaan. Faktanya adalah ada alasan untuk penderitaan. Faktanya adalah bahwa penderitaan telah berhenti. Ada fakta yang bisa menghilangkan rasa sakit.

Agama Buddha sering disebut “jalan tengah” (madhyama marga), dan ajaran utamanya tercatat dalam tiga alkitab (tripitaka berarti tiga keranjang ilmu), antara lain: Vinaya pitaka, yang membahas tentang tata kelola masyarakat, dan Sutta pitaka, yang membahas tentang moralitas, Ritual dan dialog, dan Abhidhamma pitaka berisi diskursus tentang filosofi Buddhis. Ada 8 cara utama menghilangkan nyeri, yaitu:

Pandangan benar (samyagdrsti). Tekad benar (samyaksamkalpa). Ucapan yang benar (samyalgwak). Perilaku yang benar (samyakkarmanta). Cara hidup yang benar (samyagajiva). Usaha benar (samyagvyayama). Pola pikir yang benar (samyaksmrti). Berkonsentrasi dengan benar (samyaksamadhi).

Ajaran Buddha tidak mengenal keberadaan Atman dan Tuhan, tetapi mengambil bentuk keyakinan, seperti karma, reinkarnasi, dan hukum pembebasan (Nirwana).

Related Posts

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Show Buttons
Hide Buttons