Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak

Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak – Dalam filsafat, orang Jawa sering menggunakan unen-unen untuk mengatur kehidupan manusia. Di era modern ini, sebagian besar keturunan Jawa sering kali tidak memahami arti ungkapan-ungkapan Jawa tersebut. Karenanya, jika muncul “Wong Jowo sing ora njawani”, tidak ada salahnya.

Filsafat Penting yang Selalu Diberikan Orang Tua Kepada Anak

Sumber : ayosemarang.com

newconnexion – Filsafat Jawa dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Dikutip dari egindo.co, filosofi leluhur ini ada di sepanjang kehidupan. Warisan budaya pemikiran Jawa ini bahkan dapat menambah wawasan tentang kearifan.

1. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha

Sumber : hi-in.facebook.com

Sugih tanpa Banda (orang kaya tanpa harta) Istilah “sugih” biasanya selalu dikaitkan dengan jumlah harta benda yang dimiliki seseorang. Kata “sugih” dalam ungkapan ini secara batin mengacu pada konsep kekayaan. Seseorang dapat memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa menunggu menjadi kaya.

Ketika Anda membutuhkan banyak orang, Anda sudah kaya di dalam. Ketika kehadiran Anda memiliki banyak arti bagi orang lain (kehadiran yang bermakna), maka Anda harus bersyukur atas rahmat Tuhan yang memberikan “manfaat” sehingga Anda memiliki kesempatan untuk melakukan “nandur kabecikan” (menanam kebaikan).

Digdaya tanpa aji (Sakti tanpa ajian / ilmu kesaksian). Digdaya mengartikan tidak mempan pada semua jenis senjata. Saat kita tidak memiliki musuh, tidak pernah menyinggung orang lain, toleran dan toleran, Aji dapat memberdayakan ke dalam berupa mantra atau benda (Neris, Ruby, Mace, Yellow Visi, dll).

Anda adalah senjata “tresna sejati” (cinta sejati) kami, yang tidak memberi alasan kepada orang lain untuk membenci, apalagi menyerang kami. Tresna yang sebenarnya adalah adil, dan semua makhluk memiliki hak untuk menikmati “tresna sejati” yang kita miliki. “Tres tresna” akan membebaskan kita dan mencapai perdamaian (kedamaian), ketenangan (tidak terganggu) dan lerem (pemantapan pikiran) orang.

Nglurug tanpa bala (Maju perang tanpa pasukan). Hidup itu seperti perang abadi, bukan fisik tapi batin. Ksatria tidak akan takut menghadapi sejumlah tentara buta. Setidaknya itulah yang tergambar dalam pertunjukan wayang golek di Perang Kembang.

Apakah Anda bekerja di lingkungan yang korup? Disitulah pertempuran itu terjadi. Musuh Anda bukanlah rekan / bos Anda yang korup, tetapi musuh terbesar kita adalah hasrat kita sendiri.

Makan dari gaji resmi dan menunjukkan kepada lingkungan sekitar bahwa Anda lebih bahagia. Jangan mengeluh jika ada kekurangan uang tunai. Jangan sombong secara mental, itu menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang paling suci dari semua orang. Ketulusan dan ketulusan akan menghasilkan pengaruh yang tidak pernah terpikirkan oleh Anda.

Menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan orang lain). Anda tidak pernah berpikir bahwa hidup adalah persaingan. Kita harus selalu berdiri di atas “kebenaran yang tulus”.

Terbiasa berdialog dengan hati nurani kita, dalam keheningan (ketenangan) dan keheningan (pikiran kosong), kita membiarkan Tuhan berbicara tentang hukum kebaikan dan kejahatan, yang tidak boleh, mulia atau mulia, dll. Biasakan mendengarkan suara-Nya. Otak kita terkadang “bersih” (menipu). Sesuai dengan kebiasaan agama Anda, berdoa pada tengah malam (12:00 AM). Melindungi setiap kata juga merupakan senjata ampuh.

Jangan mencegah atau menghalangi orang lain untuk mewujudkan mimpinya, tetapi harus secara aktif membantu orang lain untuk mewujudkan keinginan mereka. Realisasi cita-cita hanya kepuasan fisik, dan mengatasi kecemburuan, kecemburuan, kesombongan, dll. Itu adalah kemenangan yang nyata. Kemenangan seperti itu adalah kemenangan yang tidak mengalahkan orang lain.

Baca juga : 5 Filsafat Pegangan Orang Jawa

2. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman

Sumber : m.facebook.com

Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman” dalam bahasa Indonesia, yang artinya tidak terlalu terobsesi atau terbatas pada keinginan akan status sekuler, materialisme dan kepuasan.

Terlalu terpesona, sifat ini akan membuat seseorang menjadi ambisius, mungkin ambisius, tetapi jika demikian, kadang-kadang akan membuktikan apakah ada cara yang benar atau salah, ini yang paling penting, apakah keinginan mereka terpenuhi, Hasilnya dibutakan, tetapi tidak bisa menikmati hasil ini.

Posisi, tidak ada kekurangan orang yang bersedia melakukan apapun untuk kekuasaan, jabatan dan jabatan. Ambisi dan obsesi yang berlebihan membuat seseorang hanya mendapatkan posisi.

Harta/benda adalah sesuatu yang berhubungan dengan materi atau properti. Sunan Kalijaga telah memberikan kita semua wawasan yang sangat dalam.Oleh karena itu, kita tidak hanya terlalu mementingkan kekayaan, tetapi mengutamakan untuk membuat kita melupakan diri kita sendiri, Lupakan hal materi apa yang benar dan salah
Kepuasan sekuler, semua orang berharap untuk menjalani kehidupan yang bahagia di dunia ini dan di masa depan, tetapi yang perlu Anda ketahui adalah bahwa kebahagiaan di dunia ini abadi. Artinya hanya ada kehidupan kekal sementara di akhirat.

Oleh karena itu, Sunan Kalijaga mengingatkan kita melalui pameran ini untuk selalu mengingat kehidupan akhirat dan tidak berpuas diri dengan kehidupan dunia yang sementara ini. Sampai seseorang mengejar kebahagiaan dan pekerjaannya sendiri tetapi tidak tahu waktu, tidak mengingat Tuhan, dll.

3. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka

Sumber : youtube.com

Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka Artinya jangan sampai merasa diri Anda yang terpintar, agar tidak disesatkan. Jangan menipu atau mengkhianati, agar tidak diselamatkan dan tidak disakiti di masa depan.

Jika dijelaskan sesuka hati, pepatah Jawa ini mengajari kita untuk selalu rendah hati. Dia memiliki kekayaan properti, tetapi dia tidak pernah memamerkan propertinya. Lebih pintar, tetapi tidak selalu merawat diri sendiri.

Memiliki kekuatan, tetapi tidak bisa diunggulkan. Sebaliknya, tetap sederhana seperti orang normal. Jika Anda sudah merasa orang yang paling cerdas, paling mampu, terbaik, terkaya, dan paling super yang mengutamakan ego dan kesombongan. Paling banter, biasanya terlalu banyak, salah arah, dan akhirnya berujung bencana.

Oleh karena itu, tidak peduli profesi apa yang Anda geluti, tidak peduli seberapa kuat Anda, yang terbaik adalah tetap rendah hati dan rendah hati! Untuk menyelamatkan dirimu nanti.

4. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo

Sumber : facebook.com

“Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo”. Artinya: Jangan mudah tertarik dengan hal-hal yang terlihat bagus dan indah, dan jangan cepat berubah pikiran, jadi jangan menyesal pada akhirnya.

Filosofi nenek moyang Jawa ini mengingatkan kita untuk memiliki hati yang teguh dalam memilih atau berkeyakinan, dan tidak mudah berubah pikiran atau pendapat karena hal lain terkesan lebih baik dari pilihan sebelumnya. Manusia harus selalu waspada, karena penampilan terkadang bisa menipu. Apa yang tampak bagus di luar belum tentu berguna baginya.

Bagi banyak orang, mungkin kebiasaan mengembangkan kebiasaan mempermudah mengembangkan hal-hal yang tampan dan indah mungkin menjadi kebiasaan. Dengan cara ini kebanyakan orang tidak akan mempertimbangkan kualitas, keuntungan dan penggunaan. Ketertarikan mereka hanya didasarkan pada penampilan mereka. Akhirnya penyesalan akan muncul di masa depan.

Beberapa contohnya adalah: seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap terkadang tergiur dengan pekerjaan lain yang dianggap lebih baik, dan lebih bersedia memberikan gaji yang tinggi dan menjamin kemakmuran di masa depan.

Tetapi mereka tidak mempertimbangkan apakah pekerjaan baru itu cocok dengan keterampilan dan kemampuan mereka, dan apakah mereka bersedia bekerja di lingkungan baru. Setelah berganti pekerjaan, mereka biasanya menyadari bahwa keputusan untuk berganti pekerjaan itu salah.

Contoh lain, seseorang yang ingin memiliki jodoh. Banyak orang yang memilih pasangan hidup ini dalam anggaran belanja yang ceroboh dan sangat penting, yang penting menjadi pasangan. Yang Anda lihat hanyalah wajah yang cantik dan tampan, fisik yang baik, seksi, kemampuan atletis, terlepas dari kebiasaan hidup orang tersebut, perilaku sehari-hari mereka, dan seberapa baik keyakinan agama mereka.

Baca juga : Danau Tengkorak di India Yang Menjadi Misteri

5. Aja Adigang, Adigung, Adiguna

Sumber : id.quora.com

Sebuah (biasanya) nasihat yang baik untuk generasi berikutnya. Karena hikmat orang tua adalah memikirkan apa yang paling cocok untuk keturunannya. Hanya mereka yang tersesat akan berpikir bahwa keturunan mereka akan menjadi buruk secara prosedural.

Dalam kamus bahasa Jawa “Bausastra Jawa-Indonesia”, susunan S. Prawiroatmojo (1980) dijelaskan sebagai berikut, Adigang: membual tentang kekuatannya, Adigong: Membual, Adiguna: bangga menjadi pintar

Kata “Aja” berarti tidak. Saat kita ingin berpikir, kata-kata yang disarankan menjadi lebih dalam. Aja Adigang, jangan bangga dengan kekuatanmu. Kekuatan bisa berupa kekuatan fisik, kekuatan kolektif, atau kekuatan bersama.

Di zaman kerajaan kuno, kekuatan fisik zaman nasihat ini telah ditingkatkan. Hukum rimba menentukan siapa yang memiliki tubuh kuat, dia akan menjadi pemenang dan menempati posisi tertentu di kerajaan. Siapa yang memiliki persatuan terbesar, dia akan menjadi pemenang.

Kekuatan fisik akhir-akhir ini sepertinya tidak terlalu populer. Namun di beberapa bagian masyarakat, masih sedikit masyarakat yang mengandalkan kekuatan fisik. Gambar sederhana, misalnya, massa, dan menonjol dari massa.

Kekuatan aliansi memiliki arti yang lebih abstrak. Model sesungguhnya adalah persatuan orang-orang yang turun ke jalan di era chaos 1998. Kalau modelnya hanya dibawa ke jalan oleh perwakilan, ya tentu saja sepia tidak akan berpengaruh apa-apa.

Aja Adigung, jangan membual tentang menjadi hebat. Ada banyak macam kebesaran. Sangat bagus untuk orang-orang dengan indikator lokasi. Posisinya bisa di pemerintah atau non-pemerintah. Kebesaran ini melekat pada pemimpin, dan pemimpin memiliki bawahan. Presiden, gubernur, bupati, kamatt, lula / lurah, ketua RT, kepala bagian, kepala bagian, atasan, mandor, dsb.

Jika tidak dilandasi oleh niat baik, maka di dalam hati mereka akan merasa bangga (dan sombong) atas prestasi yang diraih. Kebanggaan (biasanya) menghilangkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab mereka. Jika Anda kehilangan kewaspadaan, konsekuensi negatif yang seharusnya tidak terjadi akan datang.

Sayangnya, bagi orang-orang berbakat itu, ini sudah menjadi kebiasaan (mungkin budaya). Melihat orang lain semakin kecil. Bahkan pada tahap yang lebih lanjut, terkadang anak-anak dan istrinya akan membual tentang kehebatan ayah dan suaminya. Dalam contoh kecil, terdapat kalimat: “Hati-hati jangan main-main, dia anak pejabat”.

Jangan membual tentang menjadi hebat. Kebesaran itu relatif. Kebesaran hanya bersifat sementara. waktu terbatas. Bagi mereka yang mengalami “post-power syndrome”, hidup akan menjadi neraka prematur bagi sebagian orang. Sekarang tersanjung (meski sebagian dipalsukan), suatu hari akan ditinggalkan.

Aja Adiguna, jangan membanggakan kepandaian. Tolok ukur kepandaian sebenarnya tidaklah satu. Orang yang sukses dalam bisnis, ia dianggap pandai dalam terapan bisnis itu. Belum tentu itu diperoleh oleh orang-orang yang punya gelar sarjana dalam ilmu ekonomi. Tetapi masyarakat saat ini masih tetap melihat kepandaian seseorang dari apa yang diterakan dalam rapor, nilai rapor, transkrip nilai dan sejenisnya.

Gelar akademik demikian pula, orang akan jeri ketika melihat gelar seseorang demikian mentereng. Jika kompetensi asli seperti apa yang tertera dalam ijazah, memang itu yang diharapkan. Kompetensi yang dimiliki diamalkan untuk kemaslahatan orang banyak, itu memang yang seharusnya.

Menurut anjuran ini, tidak perlu membual tentang kecerdasan. Kecerdasan tidak boleh dibanggakan. Biarkan orang lain menilai. Siapa yang memiliki ilmu yang luas dan ilmu yang mendalam benarkah demikian?, Jika dia dipuji oleh orang lain untuk kepentingan orang lain, tetapi tidak didengar olehnya, maka dia akan menjadi lebih bermakna.

Itu semua tergantung kita. Jangan sombong, bagi sebagian orang energi yang “berani” justru akan menjadi energi negatif. Orang tua di zaman kuno belajar dari berbagai situasi, memikirkannya, dan sampai pada kesimpulan bahwa bangga akan kekuatan, keunggulan, dan bakat sebenarnya kontraproduktif.

Related Posts

Show Buttons
Hide Buttons